Sabtu, 16 September 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (18)




PUPUH X

MEGATRUH 11
Pangeran Pekik telah kembali ke kediamannya, semua yang menghadap pun membubarkan diri, Bakda Isya’ waktunya, Kangjêng Pangeran pergi diam-diam, tiada seorang pun prajuritnya yang tahu.

MEGATRUH 12
Berangkat menuju Giri (dan) masuk ke kedhaton, ketika itu Sunan Giri Prapen, sedang duduk dihadap para punggawa dan prajuritnya, Endrasena selalu berada di depan, Lalu Kangjêng Sunan berkata pelan.

MEGATRUH 13
Wahai anak-anak, kabarnya Sultan Mataram, mengirim utusan kepadaku, meminta agar aku menghadap Sultan Agung, jika membangkang akan digempur, oleh pasukan yang akan meghancurkan Giri.

MEGATRUH 14
Yang diutus adalah ramanda Pangeran Surabaya, tetapi secara usia masih lebih tua aku, hanya (secara garis keturunan) masih terhitung bapak, istri ratu Pandhansari, jadi ikut segan.

MEGATRUH 15
Seperti apa nak, tekad kalian, nantinya aku hanya mendukung, menurut tekadmu, baik tunduk ataupun tidak, kalian yang akan menjalani beratnya perjuangan.

MEGATRUH 16
Endrasena dipanggilan sang ulama, karena merasa seperti disebut, pandangan matanya berkaca-kaca, terlontar amarah di lidah, sontak berkata kepada sang ulama.     

MEGATRUH 17
Duh Kangjêng ramanda yang sungguh sebagai, teladan di tanah Jawa, Waliyullah dan cucu Rosul, yang telah dipilih Allah S.W.T, jika menjadi kenyataan.

MEGATRUH 18
Sultan Agung yang belum mendengar, bahwa di keraton Giri, ada seorang prajurit yang memiliki kelebihan,  dia tak tertandingi di negeri China, lalu ke Jawa dan sekarang siap berperang pupuh.

MEGATRUH 19
Datang saja menyuruh anak yang bau kencur, istrinya diajak berperang pula, demi membela Sultan Agung, harusnya datang seorang diri, lalu melakukan perang tanding denganku.

MEGATRUH 20
Yang sudah-sudah (lalu) Kangjêng Rama telah mau menghadap, pantaslah itu kepada Sultan di Mataram, menghaturkan bhakti sebagai panutan, (sekarang giliran beliau yang seharusnya) datang seorang diri ke Giri, tenang saja.

MEGATRUH 21
(Tiba-tiba) Pangeran Pekik mengucapkan salam, sang ulama terkejut lalu menjawab, Walaikum salam, tergopoh-gopoh segera menyambutnya, keduanya pun mengambil posisi tempat duduk.

MEGATRUH 22
Sunan Giri Prapen menanyakan kedatangan Kangjêng Rama Pangeran Pekik, apakah dalam keadaan sehat, Kangjêng Pangeran Pekik menjawab dengan manis, aku baik-baik saja (selamat).

MEGATRUH 23
Setelah berbasa-basi saling menghormati, datanglah hidangan dan sajian di hadapan mereka, silahkan seadanya, dengan merendah, menghaturkan sembah tanda bhakti, singkatnya sang anak tidak lagi segan.

MEGATRUH 24
Duh Kangjêng Rama telah datang malam-malam, seorang diri tanpa ada yang mengawal, terkejut perasaan kami seketika, apa yang menjadi maksud, tujuan datang ke Giri Kedhaton.
 
..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

4 komentar:

  1. aku udah lama nggak ngikutin ini padahal aku yang request ya. hahaha maapken kang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wehehe ..
      saya jawab request ini juga estafet, mas Ian.

      Hapus
  2. Mendarat mas her ....👍👍

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *