Jumat, 13 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT 10




GAJAH MADA

Malam harinya, Ki Gede Sidowayah, Nyai Wora Wari dan Jaka Mada asyik bercengkerama di beranda rumah. Beberapa potong tales dan uwi rebus tampak menemani mereka di meja serambi. Menambah obrolan  dua pengasuh dan momongannya itu menjadi gayeng.

“Jika Dewata Agung mengabulkan do’aku, biyung harap kamu tidak lupa diri ya thole.” Ucap Nyai Wora Wari.

“Menjadi seorang abdi dalem harus memiliki jiwa lelabuh yang tinggi.” Lanjutnya.

Injih biyung. Mada akan selalu mengingat pesan biyung.” Jawab Jaka Mada. Ia terlihat serius mendengarkan semua petuah wanita renta yang telah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri.

Nyai Wora Wari memberi wejangan panjang lebar kepada Jaka Mada. Ia berharap momongannya tetap menjadi Jaka Mada yang penuh bhakti seperti sekarang ini. Meski kelak akan hidup di lingkungan kedaton.

“Apalagi jika firasat bopo menjadi kenyataan. Kelak kamu akan menjadi seorang kesatria besar disana thole.” Ki Gede Sidowayah menambahkan. Si Empu tua itu juga tak henti-hentinya memberi nasehat.

“Garis tulangmu itu seperti gajah. Kokoh, besar dan bertenaga luar biasa thole.” Lanjut Ki Gede Sidowayah.

“Bukan mustahil jika takdirmu nantinya adalah menjadi perisai negeri ini. Majapahit.” Tutur Ki Gede Sidowayah.

Jaka Mada hanya tersenyum. Cita-cita menjadi seorang prajurit Majapahit yang memang selama ini ia impikan. Semoga firasat dan ucapan boponya adalah bisikan Dewata Agung, batinnya.

“Terima kasih bopo.” Jawab Jaka Mada.

“Semoga Dewata Agung menjadikan ucapan bopo sebagai sabda pandita ratu yang menjadi kenyataan.” Tutup Jaka Mada.

Ki Gede Sidowayah meninggalkan beranda sejenak. Ia melangkah memasuki bilik rumahnya. Tak berselang lama, si Empu kembali dengan membawa sebuah benda yang terbungkus kain putih.

Thole, mendekatlah kemari!” Ucap Ki Gede Sidowayah.

“Iya bopo.” Jawab momongannya.

Ki Gede Sidowayah membuka benda yang dibawanya tadi. Tampak sebuah keris dipegangnya dengan penuh hati-hati. Perlahan ia menghunus pusaka itu dari rangkanya.

Seketika terpancar sinar berkilauan dari benda berbentuk runcing yang dipegang Ki Gede Sidowayah. Hembusan angin yang tadinya semilir berubah menjadi terpaan kencang. Daun-daun pepohonan juga berguguran tak kuasa menahan tiupannya. Tanah disekitar mereka mendadak bergetar.

Bopo menempa pusaka ini dengan tirakat sebulan penuh thole.” Ucap si Empu yang membuat keris itu saat Jaka Mada masih kanak-kanak.

“Keris ini bukan sembarang wesi aji. Tidak semua orang bisa memilikinya.” Lanjut Ki Gede Sidowayah. Sesaat diacungkannya benda itu keatas. Kilauan cahayanya berkelebat ke semua penjuru. Membuat mata yang memandangnya silau.

“Ternyata ia berjodoh denganmu. Saat kamu masih kecil dulu pernah memegangnya. Khodamnya keluar menyatu dengan dirimu Mada!” Jelas si bopo.

“Benarkah bopo?” Jaka Mada takjub melihat pemandangan dihadapannya. Keris yang dipegang Ki Gede Sidowayah itu seolah menari-nari ingin mengajak ia untuk segera meraihnya.

Bopo menyimpannya lama. Menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kepadamu. Sekarang terimalah ini!” Jelasnya sambil mengulurkan benda yang masih bersinar itu kepada Jaka Mada.

Jaka Mada meraihnya. Seketika kilauan cahanya dari Keris Luk Pitu memancar lebih luas. Menyeruak keluar halaman, mengangkasa dan menembus langit desa Modo. Disusul gemelegar suara halilintar menyahutnya.

“Dengan keris itu, kamu akan menjadi perisai Majapahit. Jangan adigang adigung adiguno ya thole!” Tutur Ki Gede Sidowayah.

Injih bopo. Mada akan senantiasa memegang teguh nasehat bopo biyung.” Jawab Jaka Mada. Sesaat ia menatap benda pusaka yang digenggam dan diacungkannya. Lalu perlahan ia masukkan lagi ke rangkanya.

*****

Nyai Wora Wari menangisi kepergian Jaka Mada. Bagaimanapun juga momongannya itu sudah menjadi buah hatinya seperti anak kandung sendiri. Hari itu jabang bayi yang dulu ia selamatkan dari gunung Ratu akan meninggalkannya. Memulai petualangan di tanah kotaraja.

“Jaga dirimu baik-baik ya thole! Do’a biyung senantiasa mengiringi setiap langkahmu. Jangan lupa selalu mendekatkan diri kepada Dewata Agung, Sang Pencipta kita!” Pesan terakhir Nyai Wora Wari saat Jaka Mada mencium tangannya berpamitan.

Injih biyung. Mada berangkat sekarang.” Jawab Jaka Mada

“Aku mengantarkan si thole dulu ya Nyai. Jaga dirimu juga!” Ucap Ki Gede Sidowayah sambil berjalan disamping Jaka Mada yang menuntun seekor gudel. Hewan piaraannya yang akan diadunya di kotaraja tiga hari lagi.


Nyai Wora Wari melambai-lambaikan tangan. Mengantar kepergian Ki Gede Sidowayah dan Jaka Mada hingga sampai di halaman rumah. Ia menatap kakak lelaki dan momongan kesayangannya itu hingga keduanya hilang di ujung desa Modo.

*****

Sehari perjalanan, akhirnya Jaka Mada sampai di tepian hutan Tarik. Tak jauh lagi mereka tiba di tanah Trowulan. Ki Gede Sidowayah yang setia mengantarnya mengajaknya beristirahat.

            “Kita beristirahat dulu thole. Kotaraja sudah kelihatan dari tepi hutan Tarik ini.” Ia menunjuk ke sebuah arah.

           “Baiklah bopo.” Jawab Jaka Mada. Ia menambatkan gudelnya ke sebuah pohon Mojo yang banyak tumbuh di hutan itu. Lalu duduk bersimpuh di dekat Ki Gede Sidowayah. Kembali ia memegangi benda yang terselip dibalik bajunya.

Benda pusaka yang kelak benar-benar akan membawanya menaklukkan tanah Trowulan, Majapahit. Bahkan wilayah Nusantara.

Keris Luk Pitu!




*****

BERSAMBUNG

Baca kisah selanjutnya [ Disini ]
Kisah sebelumnya [ Disini ]

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Thole = Nak (panggilan untuk anak lelaki).
Biyung = Ibu.
Bopo = Bapak.
Empu = Pembuat senjata tradisional Jawa.
Lelabuh = Mengabdi.
Uwi = Ubi.
Tales = Talas.
Wesi aji = Besi mulia (besi pilihan), bahan membuat pusaka.
Adigang adigung adiguno = Sombong dengan kekuatan, kedudukan, atau latarbelakang.
Keris Luk Pitu = Senjata tradisional Jawa, dengan motiv ukiran tujuh lekukan.
Injih = Iya.

12 komentar:

  1. Bener bener bisa menikmati kisahnya setelah digubah menjadi cerpen ni kang

    BalasHapus
  2. Tirakatnya ngapain aja yah mas ? Puasa ?

    BalasHapus
  3. Haru sekaligus bahagia. jd lebih mengenal sosok GajahMada

    BalasHapus
  4. Melalui tulisanmu, mengenal sejarah dengan asyik

    BalasHapus
  5. Bang heru, ni mada di usia berapa? Hehe


    Adigang adigung adiguno = Sombong dengan kekuatan, kedudukan, atau latarbelakang.
    #baru tahu artinya ni hari, hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usia berapa ya??
      Belum ada prasasti yang ditemukan ttg usai Gajah Mada kala itu mbk Ainayya .. hehe

      Hapus
  6. Cerita berbau sejarah tanah jawa selalu terlihat keren di mata saya.
    Le, Mada, terusno baktimu marang bapa lan biyung.
    Semangat mas Her, lanjutkan sampe part 20 :D

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *