Rabu, 04 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT 3



Surya Majapahit - image google
GAJAH MADA
 
“Tunggu aku di kehidupan yang akan datang kakang.” Nyai Andongsari tersimpuh lesu di rerumputan. Ia memeluk lutut sambil meratap di depan sebuah gundukan tanah. Masih basah.

“Aku akan merawat jabang bayi dalam perutku ini. Seperti pesan kakang agar aku membesarkannya untuk tumbuh menjadi prajurit sepertimu.” Tangis Nyai Andongsari pecah lagi. Ia tak lagi menghiraukan gerimis yang mulai menetes di punggungnya.

“Setelah ini aku mungkin pulang ke Modo. Damailah di alammu. Selamat tinggal suamiku.” Ia menjerit. Bersujud di depan pusara lelaki yang telah menanamkan benih yang sekarang dikandungnya.

Gerimis semakin deras. Langit Trowulan digedor-gedor oleh Halilintar yang menyombongkan gelegarnya. Lidahnya menjulur-julur berkilauan. Melukiskan diri di gelap angkasa. Nyai Andongsari semakin basah kuyup. Sekuyup hatinya yang kini telah hampa. Sejak kematian suaminya.
*****
“Kau akan diantar para pengawal sampai di hutan gunung Ratu. Semoga para dewata melindungimu, juga janinmu Nyai!” Ucap seorang Bekel. Hari itu Nyai Andongsari berpamitan akan kembali ke tanah kelahirannya.

Sebagai balas jasa atas pengabdian suaminya selama menjadi prajurit Majapahit, sang Bekel memberikan pengawalan sepasukan pengantar. Tak lupa beberapa perbekalan bahan makanan dan kepingan logam diberikan kepada Nyai Andongsari.

Setengah hari perjalanan dari Trowulan, akhirnya rombongan sampai di tepian hutan gunung Ratu. Mereka memutuskan beristirahat sejenak.

“Terima kasih paduka-paduka. Aku sudah sampai di tanah kelahiran. Tinggalkan disini saja. Paduka-paduka semua bisa kembali ke kotaraja setelah istirahat ini.” Ucap Nyai Andongsari kepada para prajurit Majapahit yang mengantarnya.

“Semoga para Dewata memberkati Nyai Andongsari. Kami pamit!” Seorang prajurit yang menjadi pemimpin rombongan menghampirinya. Setelah menyerahkan barang-barang pemberian Bekel Majapahit tadi, mereka melanjutkan perjalanan. Kembali ke kotaraja di Trowulan.

Sepeninggal pasukan pengantarnya, Nyai Andongsari belum beranjak dari hutan gunung Ratu. Ia masih lelah untuk berjalan lagi. Janin dalam perutnya semakin membesar. Sementara untuk menuju desa Modo tempat asalnya, harus naik turun beberapa bukit.

“Lebih baik aku menetap disini saja. Tak ada gunanya kembali ke Modo. Toh aku sudah sebatang kara.” Batin Nyai Andongsari. Ia pun membuat sebuah gubuk kecil dari ranting-ranting yang dikumpulkannya dengan beratap dedaunan untuk tempat tinggal.

Beberapa bulan tinggal di hutan gunung Ratu, usia janin dalam kandungan Nyai Andongsari semakin bertambah. Perutnya semakin membesar. Kelahiran janinnya hanya tinggal menunggu waktu.
*****
Suatu malam, dalam kesendiriannya di dalam gubuk, wanita sebatang kara itu merasakan nyeri dari dalam rahimnya. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat bercucuran dari wajahnya. Darah segar mengalir hingga membasahi betis. Sepertinya waktu jabang bayi yang dikandungnya akan lahir segera tiba.

Nyai Andongsari menggelepar kesakitan. Tangannya meraih-raih benda apapun yang bisa dicengkeramnya. Dorongan rasa perih dari perutnya semakin kuat untuk menyeruak keluar. Sekuat tenaga ia menjerit. Memanggil-manggil nama Tuhannya.

“Ya Dewata Agung, kau boleh ambil nyawaku, tetapi selamatkanlah janin ini. Aku titipkan ia kepada-MU!” Ia menjerit sekeras-kerasnya kepada penciptanya.

Jeritan terakhir!
Sukma Nyai Andongsari terbang tatkala seorang bayi laki-laki keluar dari rahimnya. Si jabang bayi pun ikut menjerit. Seolah-olah menangisi kepergian wanita yang telah mengandungnya selama berbulan-bulan ini.


Tangisnya terdengar menggelegar. Memecah kesunyian hutan gunung Ratu. Membangunkan seluruh makhluk penghuninya. Binatang-binatang berlarian ketakutan. Jeritan sang jabang bayi terdengar hingga di perkampungan penduduk terdekat. Desa Modo.

*****


Baca kisah selanjutnya [ Disini ]
Kisah sebelumnya [ Disini ] 

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Gunung Ratu = Sebuah bukit kecil, kini berada di kawasan hutan antara desa Cancing dan desa Modo, Lamongan Jatim.
Bekel = Kepala Prajurit.

17 komentar:

  1. kuwi lahirnya gajah mada bukan?

    BalasHapus
  2. Sekarang kelahiran Gajah Mada...
    wah siapakah yang akan merawat bayi GajahMada kecil?

    Keren, bisa jadi novel sejarah...

    BalasHapus
  3. Suka sekali dengan karya-karya Mas Heru. Membacanya sambil belajar. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheee ... sama2 bljar.
      Aku jg nyuri ilmu Gilang, bljar mengaduk-aduk perasaan pembaca spt tulisan aa.

      Hapus
  4. aku malah nggak merasa kalau ini cerita sejarah
    hmm keren kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. terus cerita apa mbakyu?? cerita acak adul .. hehehe.
      matur suwun mbakyu

      Hapus
    2. Cerita roman. Udah mengalir dan mmg enak dinikmati

      Hapus
  5. Ayo mas..bikin Novel Sejarah. Semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.
      Ini sekolah dulu di ODOP, nanti kalau udah wisuda kita sama2 bikin Novel :)
      hehe

      Hapus
  6. Keren, bang heru. Cerita sejarah... belajar sejarah macam ni dah lama banget... jadi tahu yg mulanya diriku tak tahu... kasihan itu si bayi ikut siapa nantinya?

    Lanjutkan karyamu, hehehe

    BalasHapus
  7. owh, Gadjah Mada itu anak prajurit biasa ya mas? kupikir tadinya dia memang anak bangsawan makanya bisa jadi Patih kepercayaan yang melegenda. Lagi-lagi.. wawasan sejarahku sepertinya perlu perbaikan serius neh.. hahaha

    aku setuju sama teman-teman yang lain. jadikan novel mas. atau buat skenario drama kolosal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.
      Iya nanti kl udah lulus sekolah ODOP.
      Skrg belajar menulis dulu.

      Hapus
  8. Lhoh...Baby Gajahmada tergeletak sendirian...help...help...anyone there...tulungi baby gajahmada dong...

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *