Kamis, 26 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT 19



Gajah Mada - image google

DYAH PITALOKA CITRARESMI

Sungguh kecantikan putri Prabu Lingga Buana bak titisan bidadari. Anak sulung dari raja Pajajaran itu, Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi diyakini memiliki Wahyu Prajna Paramitha. Wahyu inilah yang menyejajarkan kecantikannya dengan Ken Dedes. Istri Ken Arok, raja Singosari di masa lampau.

Raja dan adipati mana yang tidak tergiur oleh paras ayu Dyah Pitaloka. Mojang Parahyangan yang telah dinobatkan sebagai pewaris tahta Pajajaran itu benar-benar telah menyihir sukma seluruh lelaki. Kecantikannya tersohor ke seluruh penjuru Nusantara.

Namun belum ada satu pun diantara pengagum Dyah Pitaloka yang berani mengutarakan niatnya untuk mempersunting sang putri. Hal ini membuat Prabu Lingga Buana mulai resah. Wahyu Prajna Paramitha yang dimiliki putrinya di satu sisi membawa aura kecantikan luar biasa, namun di sisi lain membuat setiap lelaki tak bernyali meminangnya.

“Putriku Dyah Pitaloka, sebenarnya aku mendambakan dirimu segera duduk di pelaminan.” Ucap Prabu Lingga Buana kepada Dyah Pitaloka, ketika raja Pajajaran itu sedang bercengkerama dengan putrinya.

“Sabarlah ayahanda. Nanti pada waktunya juga akan datang seorang lelaki yang berani meminangku.” Jawab Dyah Pitaloka.

“Terkadang aku berpikir, memiliki Wahyu Prajna Paramitha tidak selalu menyenangkan. Aura kecantikannya justru membuat banyak laki-laki menjadi tak bernyali mendekatimu.” Lanjut Prabu Lingga Buana.

“Ah, ayahanda Prabu ini berlebihan. Dyah Pitaloka merasa biasa saja. Jauh dari kata pantas untuk disejajarkan dengan Ken Dedes, sang pemilik Wahyu Prajna Paramitha itu.” Dyah Pitaloka merendah.

*****

Adalah Prabu Hayam Wuruk, raja Majapahit yang usianya baru menginjak remaja, termasuk satu diantara ratusan kaum hawa yang terkena sihir kecantikan Dyah Pitaloka. Sebuah lukisan yang dibawa bawahannya raja Kahuripan saat berkunjung ke tanah Pasundan menjadi penyebabnya.

Lukisan bergambar seorang dara jelita. Wajahnya kuning bersih dengan rambut panjang tergurai. Dagunya lancip, siap menusuk-nusuk perasaan lelaki yang menatapnya. Sorot mata gadis dalam lukisan itu teduh, namun meruntuhkan dinding-dinding sukma kaum Adam.

Sudah tiga hari tiga malam Prabu Hayam Wuruk resah. Ia tak mau makan. Tidur pun hanya sesaat-sesaat, terbangun lagi. Wajah putri Dyah Pitaloka terus berkelana dalam pikirannya.

Gajah Mada, yang ketika itu sudah diangkat menjadi Mahamenteri (Perdana Menteri) atas jasa besarnya menyatukan Nusantara, mengetahui junjungannya sedang kalut. Ia pun memberanikan diri untuk menanyakan masalah yang dipendam Prabu Hayam Wuruk.

“Ampun gusti Prabu, hamba perhatikan akhir-akhir ini paduka seperti sedang dirundung masalah. Ada apa gerangan?” Tanya Gajah Mada.

“Aku tidak tenang, kakang Gajah Mada!” Jawab Hayam Wuruk singkat.

“Ceritakanlah pada hamba, siapa orang yang telah berani mengusik pikiran raja besar Majapahit ini?” Tanya Gajah Mada lagi.

Prabu Hayam Wuruk terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Mahamenterinya. Sebentar-sebentar ia masuk ke biliknya, lalu keluar lagi. Gajah Mada hanya duduk menunggu di serambi kedaton.

“Kakang Gajah Mada, lihatlah kemari!” Sang Raja belia memanggil Gajah Mada ke biliknya. Ia menunjukkan sebuah lukisan yang terpampang di dinding bilik.

“Siapa dia, gusti Prabu?” Tanya Gajah Mada. Mahamenteri itu langsung bisa menebak bahwa gadis dalam lukisan itu yang menjadi penyebab Prabu Hayam Wuruk gundah.

“Dyah Pitaloka Citraresmi.” Jawab sang Raja.

“Dia adalah putri sulung Prabu Lingga Buana di Pakuan Pajajaran.” Jelas Prabu Hayam Wuruk.

“Gusti Prabu jatuh hati padanya?” Tanya Gajah Mada lagi.

“Pertama kali mendapat lukisan ini dari raja Kahuripan, perasaanku langsung runtuh. Aku bermeditasi semalaman, memohon petunjuk kepada Dewata Agung. Ternyata Dyah Pitaloka Citraresmi adalah pengemban Wahyu Prajna Paramitha, kakang Mada.” Lanjut Prabu Hayam Wuruk.

“Lalu apa yang sekarang menjadi keinginan paduka?” Sang Mahamenteri bertanya lebih lanjut.

“Aku menginkan dia menjadi permaisuriku!” Suara Hayam Wuruk melirih. Keperkasaannya sebagai seorang penguasa Nusantara seakan tidak ada apa-apanya. Kecantikan Dyah Pitaloka, meski hanya melalui lukisan, mengalahkan segala kemahsyuran Hayam Wuruk.

“Jika itu yang menjadi harapan gusti Prabu Hayam Wuruk, hamba siap melaksanakan perintah. Dengan sekali invasi, Pajajaran beserta Dyah Pitaloka akan menjadi milik paduka!” Ucap Gajah Mada.

“Tidak kakang Gajah Mada. Sunda beserta Songenep tidak boleh kita usik. Biarlah Nusantara yang luas ini menjadi milik kita tanpa mereka!” Prabu Hayam Wuruk tidak berkenan dengan niat Gajah Mada mewujudkan hasratnya dengan jalan menaklukkan Pakuan Pajajaran.

“Tolong pisahkan antara cinta dengan kekuasaan, kakang Mada.” Lanjut sang Raja.

“Tetapi kejayaan Majapahit akan cela tanpa Sunda! Biarkan hamba dan pasukan Bhayangkara mempersembahkan Dyah Pitaloka untuk paduka” Bantah Gajah Mada.

“Jangan kakang. Aku akan meminang putri Lingga Buana itu baik-baik. Kirimlah Patih Madhu ke Pajajaran untuk menyampaikan pinanganku!” Perintah Prabu Hayam Wuruk.

“Tetapi gusti, …. “ Sela Gajah Mada. Mahamenteri yang telah berhasil memperluas wilayah kekuasaan Majapahit mulai Pulau Madagaskar di ujung barat hingga Polynesia di belahan timur Papua tidak sependapat dengan Prabu Hayam Wuruk. Menurutnya Pajajaran tetap harus ditaklukkan.

“Pikirkan kembali niat gusti Prabu. Dyah Pitaloka pasti akan paduka dapatkan, tetapi kedaulatan Majapahit tetap harus kita perjuangkan dengan menaklukkan mereka!” Tegas Gajah Mada.

“Ini sabdaku, Laksanakan kakang!” Hayam Wuruk menegaskan kehendaknya.

Sendiko dawuh, gusti Prabu!” Jawab Gajah Mada, ia menyembah lalu berpamitan meninggalkan kedaton. Segera ditemuinya Patih Madhu di istana Kepatihan. Ia memerintahkan bawahannya itu berangkat ke Pajajaran. Meminangkan putri Dyah Pitaloka untuk Prabu Hayam.

“Bawalah pengawal secukupnya. Jangan lupa persembahkan banyak emas, kain sutra dan polowijo!” Perintah Gajah Mada.

Sendiko dawuh, gusti Mahamenteri!” Jawab Patih Mandhu.

Keesokan harinya, utusan kerajaan Majapahit berangkat menggunakan sebuah kapal layar besar. Mereka membawa beberapa peti yang berisi kepingan logam, emas dan kain sutra. Gladak kapal juga dipenuhi banyak polowijo sebagai sesembahan untuk Pajajaran.

*****

Tanah Pasundan, 1359 Masehi.

Matahari belum tampak. Pekatnya kabut yang turun dari gunung Halimun masih menyelimuti istana Pakuan Pajajaran. Suara kokok ayam pun belum ada yang terdengar.

Namun, sepagi itu sudah terjadi kesibukan di istana Prabu Lingga Buana. Berita kedatangan utusan Majapahit yang beberapa hari berlabuh di dermaga Sunda Kelapa sudah terdengar. Pagi itu Pajajaran akan menyambut rombongan kehormatan.

Menjelang tengah hari, iring-iringan utusan dari Majapahit yang dipimpin Patih Madhu memasuki halaman istana Pajajaran. Beberapa gerobak pedati tampak dipenuhi barang-barang bawaan yang menjadi sesembahan prosesi peminangan itu.

“Terimalah salam dari raja kami, Prabu Hayam Wuruk.” Sembah Patih Madhu saat diterima di pendopo istana oleh Prabu Lingga Buana beserta seluruh punggawa kerajaan Pajajaran.

“Sebuah kehormatan bagi kami, salam sang Raja Majapahit kami terima dengan senang hati.” Jawab Prabu Lingga Buana.

“Permisi paduka Prabu Lingga Buana. Maksud hamba datang kemari adalah mewakili Prabu Hayam Wuruk. Majapahit berniat menyambung lagi tali kekeluargaan yang telah lama renggang. Eyang Wijaya, pendiri negeri kami memiliki darah Sunda. Alangkah baiknya jika penerusnya, raja kami saat ini berniat mempererat hubungan itu.” Jelas Patih Mandhu.

“Tentu kami menyambut baik niat tulus itu. Katakan apa yang diinginkan sang Prabu Hayam Wuruk?” Tanya Prabu Lingga Buana.

“Hari ini kami mewakili Prabu Hayam Wuruk menyampaikan pinangan kepada putri paduka, Dyah Pitaloka Citraresmi.” Ucap Patih Mandhu.

“Sebagai orang tua, aku hanya menurut dan tinggal merestui keputusan putriku saja.” Jawab Prabu Lingga Buana.

“Dyah Pitaloka, bagaimana dengan dirimu? Apakah kau menerima pinangan Prabu Hayam Wuruk ini?” Prabu Lingga Buana menyerahkan keputusan kepada putrinya.

Dyah Pitaloka tertunduk malu. Dalam hati ia kagum juga dengan lukisan yang baru saja dipersembahkan oleh Patih Madhu. Gambar seorang raja muda yang gagah dan menawan, Prabu Hayam Wuruk kini ada di tangannya.

“Bagimana putriku?” Suara ayahandanya membuyarkan lamunan Dyah Pitaloka. Ia tersipu malu. Semua yang hadir di pendopo istana Pajajaran hanya tersenyum. Mereka bisa menebak bahwa isi hati sang putri. Pasti ia juga jatuh hati kepada raja besar Majapahit.

“Sebuah kebanggan bagi ananda. Dengan kedua tangan terbuka, Dyah Pitaloka Citraresmi menerima pinangan Prabu Hayam Wuruk!” Jawab putri sulung Prabu Lingga Buana tanpa keragu-raguan.

“Semoga Dewata Agung merestui pinangan hari ini.” Titah Prabu Lingga Buana. Semua yang hadir pun menyembah, lalu menundukkan kepala sejenak. Bersyukur kepada Dewata Agung atas kelancaran prosesi peminangan hari itu.

Patih Madhu beserta rombongan Majapahit pun berpamitan pulang kembali ke Trowulan. Tak lupa ia menyampaikan bahwa atas pesan Prabu Hayam Wuruk, prosesi pernikahan dan pengambilan sumpah suci akan dilakukan di kotaraja Majapahit.

“Sampaikan salamku kepada Prabu Hayam Wuruk. Aku sendiri, Lingga Buana beserta semua punggawa Pajajaran dan seluruh prajuritnya akan mengantar Dyah Pitaloka Citraresmi ke Majapahit!” Ucap Prabu Lingga Buana.

Prabu Lingga Buana pun memerintahkan kepada para punggawanya agar segera dipersiapkan segala keperluan acara pernikahan. Tak lama lagi rombongan besar Kerajaan Pasundan itu akan menyusul ke Majapahit.

Matahari semakin condong ke ufuk barat. Sinarnya yang seharian menyengat kotaraja Pakuan, Pajajaran mulai digantikan kabut tipis yang perlahan turun dari gunung Salak.

Didalam bilik kedaton, Dyah Pitaloka Citraresmi kembali memandangi lukisan Hayam Wuruk. Dadanya bergemuruh. Dinding-dinding dalam bangunan sukmanya seakan hendak rontok. Tak sabar untuk segera menyusulnya ke Trowulan, Majapahit.

*****

BERSAMBUNG


Baca kisah selanjutnya [ Disini ]
Kisah sebelumnya [ Disini ]


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Wahyu Prajna Paramitha = Anugerah tertinggi (kecantikan) yang diberikan Sang Pencipta kepada kaum perempuan.
Polowijo = Hasil bumi dari pertanian. 
Songenep = Sumenep, Madura. .

Lukisan Prabu Hayam Wuruk
Lukisan Dyah Pitaloka Citraresmi - image google

13 komentar:

  1. Memang menawan diah pitaloka itu . aah akhirnya bikin nyesek deh ntar

    BalasHapus
  2. Memang menawan diah pitaloka itu . aah akhirnya bikin nyesek deh ntar

    BalasHapus
  3. Ikut merasakan kebahagiaan hayam wuruk

    BalasHapus
  4. Jatuh cinta oiii...
    Bersyukur yach org sekarang, kl kangen liat foto lebih real.
    Zaman e hayam wuruk, masih lukisan...hmmm sesuatu. Tapi meski lukisan...cantik oiii

    BalasHapus
  5. Wah... cinta yang terbalas... senangnya...

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *