Jumat, 06 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT 5



image google

GAJAH MADA

“Mada, jangan dibuat main-main! Nanti kau terluka!” Teriak Ki Gede Sidowayah, ketika momongannya memegangi beberapa buah pusaka yang baru saja ia tempa.

“Ini namanya apa bopo?” Tanya Jaka Mada kecil. Ia penasaran dengan sebuah benda besi berbentuk lekuk-lekuk yang seharian ini dikerjakan oleh Ki Gede Sidowayah.

“Itu namanya keris. Bopo menempanya untuk para punggawa Majapahit.” Jelas Empu yang kini sehari-harinya selalu ditemani Mada kecil saat ia membuat berbagai pusaka.

“Yang ini apa bopo?” Jaka Mada belum puas. Ia mengambil lagi benda lain yang ukurannya lebih panjang.

“Tombak. Awas jangan dibuat main-main Mada!” Jawab Ki Gede Sidowayah sambil mengingatkan momongannya. Sementara si bocah tak menghiraukannya. Diambilnya lagi sebuah keris yang tadi sempat di pegang Mada.

“Lihatlah bopo! Mada tampak jagoan dengan keris ini kan?” Dengan polos ia mengacung-acungkan Pusaka Luk Pitu sambil berloncatan menirukan gerakan seorang kesatria yang sedang berperang.

“Mada!” Boponya berdiri lalu dengan sabar menghampiri momongannya. Hendak merebut keris yang dipegang Jaka Mada. 

Diluar dugaan tiba-tiba Ki Gede Sidowayah terpental. Tubuhnya terjengkang ketika ia mendekati Jaka Mada yang membawa Pusaka Luk Pitu

Si Bopo kesakitan. Dengan tertatih-tatih ia berusaha berdiri. Pandangan matanya berkunang-kunang. Tak disangka Jaka Mada memiliki kedigdayaan saat memegang keris buatannya.

“Keris itu berjodoh dengan Mada.” Batin Ki Gede Sidowayah. Ia meyakini bahwa khodam dari pusaka buatannya akan membuka diri saat dipegang orang yang memiliki aura kesatria.

“Bopo kenapa?” Tanya Jaka Mada keheranan saat lelaki tua yang menjadi pengasuhnya jatuh tersungkur. Ia mengembalikan lagi keris yang dipegangnya. Lalu perlahan membantu boponya berdiri.

"Bopo terpeleset Mada. Kamu baik-baik saja kan nak?" Jawab Ki Gede Sidowayah. Ia masih gemetaran. Sebuah tenaga yang mendorongnya hingga terpental tadi bukan energi biasa. Tenaga yang keluar dari calon pemilik Keris Luk Pitu.

“Ada apa ini kok ribut-ribut?” Nyai Wora Wari yang mendengar suara gedubrak buru-buru menghampiri Ki Gede Sidowayah dan Jaka Mada. Ia terkejut saat melihat kakak lelakinya berdiri tertatih-tatih dibantu sang momongan.

“Tida ada apa-apa Nyai. Mada sedang bermain-main denganku. Tenagaku yang sudah renta ini tak kuat menandinginya.” Ki Gede Sidowayah berpura-pura kuat. Padahal kepalanya masih terasa berputar-putar.

“Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. Aku terkejut mendengar suara gedubrak tadi Ki.” Jawab Nyai Wora Wari. Ia segera menghampiri Jaka Mada untuk memastikan keadaan momongannya baik-baik. 

"Tadi bopo terpeleset dan jatuh Biyung." Ucap Jaka Mada. Si bocah hanya tersenyum lagi berlari pergi ke halaman.

Jaka Mada sibuk bermain lagi di halaman. Ki Gede Sidowayah mendekati  Nyai Wora Wari. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya baru saja dialami Jaka Mada.

“Keris Luk Pitu ini berjodoh dengan Mada!” Jelas si Empu sambil memegangi sebuah pusaka yang ditempanya dengan tirakat sebulan penuh.

“Benarkah Ki?” Tanya Nyai Wora Wari.

“Keris Luk Pitu bukan sembarang pusaka Nyai. Aku menempanya dengan tirakat satu bulan. Khodamnya memiliki energi kesatria!" Jawab Ki Gede Sidowayah.  

"Entah siapa sebenarnya momongan kita ini!” Lanjutnya. Ia berkeyakinan bahwa pusaka buatannya itu tidak berjodoh dengan sembarang orang.

“Jika firasatku tidak salah. Kelak Mada akan menjadi kesatria besar dengan pusaka ini!” Tutup Ki Gede Sidowayah.

“Semoga Dewata Agung meberikan hidayah-NYA. Kasihan benar nasib momongan kita ini. Aku tidak tega kalau teringat peristiwa kelahirannya.” Suara Nyai Wora Wari terdengar parau. Ia tak kuasa menahan air matanya. Dengan berkaca-kaca ia memandangi Jaka Mada yang sedang meloncat-loncat di halaman. Bermain-main menirukan gerakan seorang kesatria yang sedang berperang.


*****

Hari berganti minggu. Bulan pun digeser oleh perjalanan tahun. Jaka Mada kecil tumbuh semakin besar. Momongan Ki Gede Sidowayah dan Nyai Wora Wari kini sudah menjadi sosok anak yang rajin dan berbakat.

Setiap hari Jaka Mada tanpa lelah membantu pekerjaan dua orang pengasuhnya. Menggembalakan kerbau biyungnya di tepian hutan gunung Ratu. Sepulangnya, ia tak segan ikut boponya menempa Wesi Aji.

Hampir setiap hari ikut berkutat dengan tekun membuat berbagai pusaka, menjadikan naluri olah senjata Jaka Mada terasah. Ia pun semakin cekatan memegang dan memainkan benda-benda pesanan para punggawa Majapahit itu.

*****



Baca kisah selanjutnya [ Disini ]
Kisah sebelumnya [ Disini ] 

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Tempa = Proses pembuatan pusaka dengan berbagai tirakat (puasa).
Bopo = Bapak.
Pusaka Luk Pitu = Pusaka dengan motif tujuh lekukan.
Biyung = Ibu.

15 komentar:

  1. Jaka Mada kecil sudah saakti...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah. Segmen Mada kecil ini tdk tercatat dlm sejarah, krn tdk ada satu prasasti yg ditemukan ttg masa kecil Gajah Mada.
      Saya mengangkatnya dari Forklor (legenda rakyat) Modo. Kebetulan kerabatku bnyk yg tinggal di Ngimbang Lamongan Lis.

      Hapus
  2. Aku jatuh cinta sama sosok Jaka Mada. Anak laki-laki memang menarik dan unik.

    Mas Heru aku sekarang mau numpang ngontrak ya..makin seru nih ceritanya.

    BalasHapus
  3. Keren,bang.
    Si Mada sudah sakti mandraguna...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segmen ini hanya cerita rakyat mbk Nadila.

      Hapus
  4. Dari kecil aja sudah sakti begitu..., apalagi besarnya...

    penasaran kelanjutannya, dan kebetulan suka sejarah, apalagi tentang Nusantara... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu aja Inet. Lagi cari2 ide untuk 20 part =D

      Hapus
  5. Selesai yo mas kisah Gajah Mada cilike? Jadi tahu aku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum mbk Denik ... masih panjang perjalanan sang Mahapatih ini.

      Hapus
  6. Nggak tahu harus komen apa
    Suka dengan tulisannya
    Blm tamat kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih mbk Wiwid, Insya Allah hingga 20 part :)

      Hapus
  7. Serunya sekali menapaki sejarah

    BalasHapus
  8. Cilik2 wes sakti ternyata Gajah Mada .....baru tau aq...

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *