Rabu, 25 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT 18



Gajah Mada - image google

HAYAM WURUK

“Sementara kita break dulu dari ekspansi, kakang Gajah Mada!” Ucap Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Hari itu ia bersama suaminya Chakra Dara dan Putra Mahkota Hayam Wuruk memanggil Mahapatih Gajah Mada di paseban agung.

“Aku ingin kakang Gajah Mada membantu menyiapkan regenerasi para punggawa kedaton. Banyak Dharmaputra yang sudah dimakan usia.” Jelas sang Ratu.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa para punggawa Majapahit banyak yang mengabdi sejak kepemimpinan ayahanda Prabu Brawijaya. Cepat atau lambat, beliau-beliau akan undur diri pada waktunya nanti.” Imbuh Chakra Dara.

“Hamba sependapat dengan paduka berdua. Kita harus menyiapkan punggawa-punggawa muda untuk menggantikan para Dharmaputra di masa yang akan datang.” Ucap Mahapatih Gajah Mada.

“Tugas ini aku serahkan kepadamu, kakang Gajah Mada. Regenerasi pertama yang kita siapkan adalah Sang Pangeran ini!” Ratu Tribhuwana Tunggadewi menepuk-nepuk pundak putranya, Hayam Wuruk.

Putra Mahkota yang masih belia itu sengaja ia siapkan lebih dini agar kejadian yang menimpa kakaknya Prabu Jayanegara tidak terulang lagi. Kalagemet kala itu menjadi raja saat usia muda, namun tidak punya bekal ilmu pemerintahan dan ajaran budi pekerti. Akibatnya roda pemerintahan kacau. Pemberontakan terjadi beruntun, akibat perilaku dan kebijakan Prabu Jayanegara yang kontroversi.

Ratu Trbhuwana Tunggadewi dan Chakra Dara ingin Hayam Wuruk kelak menjadi seorang raja yang arif dan bijaksana. Menurut mereka, Gajah Mada adalah panutan yang cocok untuk menggembleng jiwa kesatria dan patriotisme sang Putra Mahkota.

“Putraku Hayam Wuruk, mulai hari ini kamu belajarlah pada Mahapatih Gajah Mada. Timbalah ilmu sebanyak-banyaknya dari beliau, terutama jiwa kepemimpinan dan bhakti kepada negeri!” Chakra Dara menasehati putranya.

“Sendiko dawuh kanjeng romo, kanjeng ibu!” Jawab sang Putra Mahkota, Pangeran Hayam Wuruk.

“Kakang Gajah Mada, kuserahkan Putra Mahkota kepadamu. Didik dan gemblenglah dia agar menjadi pemimpin yang berjiwa kesatria dan berbudi pekerti luhur!” Perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

“Sendiko dawuh gusti!” Sembah Gajah Mada.

*****

Mahapatih Gajah Mada selalu mengajak Pangeran Hayam Wuruk ikut menghadiri semua pertemuan para punggawa di pendopo agung Majapahit. Putra Mahkota itu diarahkan oleh sang mentor untuk menyimak setiap laporan dan diskusi yang disampaikan Dharmaputra.

Banyak hal yang dibahas dalam pertemuan rutin di paseban agung itu. Mulai tata kelola pemerintahan, baik di pusat kotaraja maupun di daerah taklukan. Hingga penghasilan kerajaan sektor pajak yang ketika itu ditarik dari setoran upeti seluruh negeri vassal.

Pangeran Hayam Wuruk ditakdirkan Dewata Agung menjadi seorang anak yang cerdas. Sepintar nama pemberian ayahnya Chakra Dara. Hayam Wuruk dalam bahasa Majapahit Kuno berarti Ayam yang Pintar!

Suatu hari, dalam pertemuan rutin para punggawa, Dharmaputra dan utusan negeri vassal di pendopo agung Majapahit, Putra Mahkota itu berani angkat bicara untuk pertama kalinya.

“Mohon ijin kanjeng ibu Ratu Tribhuwana Tunggadewi, romo Chakra Dara, Mahapatih Gajah Mada, para punggawa, Dharmaputra dan wakil negeri vassal yang saya hormati.” Ucap Hayam Wuruk.

“Sekiranya gagasan saya ini salah, mohon diberikan arahan. Menurut Hayam Wuruk, kini saatnya kita mulai berpikir memanfaatkan potensi alam yang sangat besar di negeri kita.” Lanjut sang Putra Mahkota.

“Saya mempunyai mimpi, alangkah bergunanya jika bengawan Brantas yang megah mengelilingi kotaraja ini diambil manfaatnya untuk irigasi!” Hayam Wuruk mengutarakan idenya.

“Saatnya kita membangun kanal-kanal yang akan mengalirkan air dari bengawan Brantas menuju tanah-tanah rakyat!” Jelasnya.

“Kanal-kanal itu nantinya yang akan merubah pola bercocok tanam rakyat kita. Tanah Majapahit begitu subur. Sayang kalau kekayaan kita melalui sektor pertanian dan kebun hanya mengandalkan air hujan saja!” Suara Pangeran muda itu membuat semua yang hadir merinding. Tidak ada yang menyangka bahwa calon pemimpin mereka di masa depan itu memiliki pemikiran yang sangat brilian. Semua punggawa dan Dharmaputra terperanga.

“Luar biasa gagasan Pangeran Hayam Wuruk. Inilah pemikiran calon raja Majapahit yang akan mengantarkan negeri yang kita cintai ini menuju era kemakmuran!” Ucap Mahapatih Gajah Mada yang memimpin pertemuan di paseban agung.

“Hidup Pangeran Hayam Wuruk!” Teriak semua yang hadir di pendopo Majapahit serempak.

*****

Majapahit, 1350 Masehi.
Siapa yang tak kagum dengan kepintaran Pangeran Hayam Wuruk. Semua rakyat dan punggawa kedaton Majapahit membicarakan kecerdasan sang Putra Mahkota itu. Usianya masih belia, namun ide dan gagasannya dalam tata kelola pemerintahan sungguh tidak diragukan lagi.

Ibundanya, Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan ayahnya Chakra Dara termasuk orang yang tak henti-hentinya memahas perkembangan putranya. Menurut sang Ratu, Hayam Wuruk sudah saatnya naik tahta menggantikan dirinya. Majapahit harus dipimpin seorang lagi oleh raja laki-laki, bathinnya.

“Pangeran Hayam Wuruk sudah sangat menguasai ilmu pemerintahan, kakang Gajah Mada.” Ucap ratu Tribhuwana Tunggadewi saat memanggil Mahapatih Gajah Mada di istana Ratu.

“Betul gusti Ratu. Hamba juga tidak menyangka Putra mahkota begitu cepat beradaptasi dengan pertemuan-pertemuan para punggawa dan Dharmaputra.” Jawab Gajah Mada.

“Aku tak ingin berlama-lama duduk di singgasana. Kita nobatkan Putra Mahkota menjadi raja Majapahit yang baru!” Titah ratu Tribhuwana Tunggadewi.

“Sendiko dawuh gusti! Segala keperluan upacara akan hamba perintahkan untuk dipersiapkan sekarang!”

Keesokan harinya, dihadapan para Brahmana, Ratu Sepuh Tribhuwana Tunggadewi (yang mengundurkan diri karena mewariskan tahta), Chakra Dara, Mahapatih Gajah Mada, Dharmaputra dan semua punggawa kerajaan, Putra Mahkota Pangeran Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja baru Majapahit.

Ia naik tahta ketika usianya baru enam belas tahun. Raja keempat Majapahit itu menyabdakan dirinya dengan gelar Maharaja Sri Rajasanagara.

Setelah penobatan dirinya, ketika menyusun kabinet Hayam Wuruk tidak banyak merubah susunan punggawa peninggalan ibundanya. Jabatan tertinggi di Dharmaputra tetap ia percayakan kepada Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubumi.

Gagasan yang dulu sempat ia utarakan saat masih menjadi Putra Mahkota pun dijalankan. Banyak kanal yang dibangun untuk mengalirkan bengawan Brantas menuju tanah rakyat. Hasil pertanian dan kebun jauh meningkat. Panen raya tanah rakyat Majapahit yang awalnya hanya dua kali setahun dengan mengandalkan air hujan, berlipat tiga hingga empat kali panen.

Perlahan namun pasti, raja muda Majapahit itu berhasil mengangkat pendapatan rakyatnya. Negeri besar di Jawa Dwipa bagian timur telah tumbuh menjadi raksasa ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Era kemakmuran seperti yang pernah diprediksikan Mahapatih Gajah Mada benar-benar telah digapai oleh Prabu Hayam Wuruk.

*****

“Gusti Prabu Hayam Wuruk, hamba ingin mengutarakan sesuatu.” Ucap Gajah Mada ketika menghadap raja barunya di kedaton kepabron.

“Ada apa kakang Gajah Mada?” Tanya Prabu Hayam Wuruk.

“Dahulu ketika hamba diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Sepuh, hamba mengikrarkan sumpah akan menaklukkan seluruh wilayah Nusantara!” Jelas Mahapatih Gajah Mada.

“Kini sudah separuh lebih wilayah Nusantara bersatu ke pangkuan negeri Majapahit. Saat itu hamba diminta break dari invasi oleh Ratu Sepuh, karena menyiapkan suksesi kepemimpinan dan regenerasi para punggawa Majapahit.” Lanjut Mahapatih Gajah Mada.

“Terus apa rencana kakang sekarang?” Prabu Hayam Wuruk kembali bertanya.

“Hamba ingin berpamitan, besok hari Pasukan Bhayangkara akan hamba berangkatkan lagi. Gajah Mada akan mewujudkan sumpahnya!” Ucap Mahapatih Gajah Mada.

“Lanjutkan kakang. Aku selalu mendukungmu. Jika perlu besok aku akan ikut berperang menaklukkan Nusantara!” Perintah Prabu Hayam Wuruk.

Raja muda Majapahit, Maharaja Sri Rajasanagara ikut mengantar iring-iringan kapal armada kerajaannya hingga sampai ke muara bengawan Brantas di Selat Madura.

“Hamba mohon pamit. Panji-panji Surya Majapahit akan berkibar di belahan timur Nusantara!” Teriak Mahapatih Gajah Mada dari atas anjungan kapalnya.

“Selamat berjuang kakang Gajah Mada! Segera pulanglah ke kotaraja dengan membawa kemenangan besar!” Jawab Prabu Hayam Wuruk yang melepas keberangkatan pasukannya.

Ratusan prajurit melambai-lambaikan tangan dari kapal-kapal yang terus bergerak ke arah timur perairan Laut Madura. Menuju Lautan Sumba di sebelah timur pulau Bali.

*****

Raja-raja di wilayah timur Nusantara semula mengira bahwa negeri mereka luput dari invasi Majapahit. Beberapa tahun tidak ada kedatangan pasukan dari Jawa Dwipa. Penguasa Majapahit sudah cukup puas dengan wilayah yang telah ditaklukkannya, tak perlu memperluas lagi kekuasaannya, pikir raja-raja itu.

Namun mimpi buruk itu datang lagi. Puluhan kapal besar yang mengangkut pasukan Bhayangkara Majapahit berlabuh di dermaga Logajah. Gajah Mada, sosok yang meruntuhkan nyali raja-raja di wilayah timur Nusantara benar-benar muncul kembali.

Satu per satu mereka menyerah. Invasi pertama yang sukses menaklukkan raja Logajah pun berlanjut. Selanjutnya tak ada satu pun negeri yang berani berbuat banyak. Mereka memilih bertekuk lutut di hadapan Mahapatih Gajah Mada, ketimbang berurusan dengan Keris Luk Pitu.

Raja negeri Gurun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankandali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggawi, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar, Solor, Bima, Wandan, Ambon, Wanin, Timor dan Dompu semuanya mencatatkan sabda pada daun lontar. Mengakui kedaulatan Nusantara dibawah kekuasaan satu raja, Majapahit!

Replika Kapal Perang Majapahit - koleksi Museum Negara KL, Malaysia
 
Panji Surya Majaphit, warna dasar Merah Putih yang menjadi cikal bakal bendera RI sekarang

*****

BERSAMBUNG

Baca kisah selanjutnya [ Disini ]
Kisah sebelumnya [ Disini ]


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Di jaman Majapahit, system irigasi untuk pertanian sudah diterapkan. Ditemukannya peninggalan-peninggalan bangunan bersejarah berupa kanal menunjukkan bahwa Prabu Hayam Wuruk ketika itu adalah seorang pemimpin yang mengedepankan pembangunan sektor pertanian rakyat.

Kolam Segaran, yang saat ini masih megah di tengah-tengah kota Trowulan, Mojokerto Jatim adalah bekas waduk di jaman Majapahit. Air dari telaga buatan Raja Majapahit ini tak pernah kering hingga sekarang. Bangunan waduk menggunakan batu bata berukuran besar yang menjadi ciri khas Kerajaan Majapahit.

Kolam Segaran, Trowulan Mojokerto - image google
Penemuan Kanal peninggalan Majapahit
 
Kanal Peninggalan Majapahit, baru ditemukan warga Trowulan 2015



13 komentar:

  1. Cerdas sekali raja hayam wuruk ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aa ..
      Ketika itu Majapahit menjelma menjadi negeri maha kaya.

      Hapus
  2. keren Mas..makin kagum dengan cara Mas Heru menulis.

    BalasHapus
  3. di daerahku (Kediri), banyak juga mas Her situs-situs peninggalan para leluhur. seperti situs Nyai Calon Arang, situs Semen, petilasan sri Aji Joyoboyo, Totok Kerot, dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehee .. betul mbk Dymar.
      Saya baru sempat ke Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Goa Selomangleng.
      Besok2 Insya Allah tracker kesana

      Hapus
  4. Oh ya, satu lagi. Tempat muksa-nya Prabu Hayam Wuruk, juga ada di Kediri. Sekarang tempatnya dikeramatkan. Dibuat semacam petilasan begitu.

    BalasHapus
  5. Oh ya, satu lagi. Tempat muksa-nya Prabu Hayam Wuruk, juga ada di Kediri. Sekarang tempatnya dikeramatkan. Dibuat semacam petilasan begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka banget sama tempat-tempat bersejarah seperti itu. Karna Ayah sering cerita-cerita tentang leluhur Kediri.

      Hapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *