Selasa, 11 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 9)



image google


3.ARJUNA

Istana Mandura,
“Seumur hidupku, inilah hari paling bahagia.” ucap Prabu Basudewa sambil menimang seorang bayi perempuan.

Istrinya Dewi Badrahini baru saja melahirkan. Setelah sebelumnya Dewi Mahendra memberinya dua anak laki-laki, sang raja Mandura kini merasakan lengkap sudah anugerah Dewata kepadanya.

Di istana kaputren, ia sedang bercengkerama dengan kedua istri dan dua anak lelakinya. Kakrasana dan Narayana, yang turut merasakan kebahagian dengan mencium dan menimang-nimang adik perempuan mereka.  

Suasana kebahagiaan sedikit terhenti ketika seorang abdi dalem melaporkan bahwa di pendopo Mandura telah menunggu dua tamu dari Astina.

Bergegas Prabu Basudewa berpamitan kepada Dewi Mahendra dan Dewi Madrahini, diikuti Kakrasana dan Narayana. Hendak menemui siapa gerangan sepagi buta begini sudah ada tamu di pendopo.

“Adi Pandudewanata, Ki Lurah Semar?” sapa Prabu Basudewa.

“Kakang Basudewa, sembah dan bhaktiku untukmu.” ucap Prabu Pandudewanata.

“Kuterima sembah bhaktimu, adi Prabu Pandu. Sembah dan bhaktiku untuk Ki Lurah Semar.” balas Prabu Basudewa.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … kuterima sembah bhaktimu, Basudewa. Semoga Dewata senantiasa melimpahkan kesejahteraan kepada orang-orang Mandura!” jawab Kyai Lurah Semar Badranaya.

“Siapa bayi dalam gendonganmu itu, adi Pandu?” tanya sang raja Mandura.

“Ini putraku dari Kunti, Permadi namanya. Kakang Semar baru saja mengantarku menjemput bayiku ini ke Kahyangan. Sang Hyang Manikmaya memerintahkan agar kami langsung ke Mandura.” jawab Prabu Pandudewanata.

“Ya Jagad Dewa Bathara, ternyata ini adalah keponakanku.” Prabu Basudewa sontak mendekat lalu mencium bayi dalam gendongan adik iparnya.

Hampir saja ia lupa mengabarkan kebahagiaan yang juga tengah dirasakan istana Mandura, jika saja kedua istrinya Dewi Mahendra dan Dewi Badrahini tidak menyusul ke pendopo.

“Adi Pandu, lihatlah! Itu anak perempuanku. Wara Sembadra namanya!” dengan bangga Prabu Basudewa memperkenalkan putrinya.

Dewi Badrahini lalu menyerahkan bayi Wara Sembadra kepada sang suami, “Adi Pandu, bawa kemari keponakanku.” pinta Prabu Basudewa sambil memangku putrinya di atas singgasana.

Prabu Pandudewanata mengulurkan putranya. Kini sang raja Mandura memangku dua jabang bayi. Permadi di paha kanan dan  Wara Sembadra di paha kirinya.

“Kelak kedua bayi ini harus kita tunangkan. Biarkan mereka menjadi sepasang suami istri yang akan menurunkan raja-raja besar!” sabda raja Mandura.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … Aku yang menjadi saksi, semoga Dewata mengabulkannya.” timpal Kyai Lurah Semar Badranaya.

Kebahagiaan di pendopo Mandura pagi itu semakin lengkap, ketika datang rombongan dari Astina. Begawan Abiyasa, Yama Widura, dan Resi Bisma dikawal Bagong, Gareng dan Petruk.

Kakek dari jabang bayi, Begawan Abiyasa memberi nama putra ketiga Prabu Pandudewanata dengan sebutan Indratanaya yang berarti putra angkat Bathara Indra.

Sehari tinggal di Mandura, Prabu Pandudewanata bersama seluruh kerabat Astina berpamitan pulang ke negeri mereka. Karena telah lama menunggu Dewi Madrim dan Dewi Kunti yang masih berharap-harap cemas dengan kabar bayinya.

*****

Hari berganti minggu, bulan digusur oleh perjalanan tahun. Permadi tumbuh menjadi kesatria muda yang dianugerahi wajah tampan nan rupawan. Tak ada satu pun lelaki di Astina yang bisa menandingi keelokan paras putra Pandu itu.

Permadi dikenal sebagai kesatria yang gemar berguru. Ia berkelana dari satu padepokan ke padepokan yang lain. Selain menjadi murid Begawan Durna di Sokalima, ia juga belajar pada Resi Krepa, Resi Padmanaba dan Begawan Ramaparasu.

Di padepokan Sokalima, Permadi dikenal dengan nama Arjuna, yang berarti cahaya putih. Sewaktu bayi ia pernah menggegerkan para bidadari di Kahyangan Kawidaren dengan menyusup menjadi seberkas cahaya putih.

Werkudara kakaknya memanggil dengan sebutan kesayangan Jlamprong.

Begawan Durna sangat mengagumi kelihaian Arjuna dalam belajar memanah, hingga ia bersumpah tidak akan menurunkan ilmu memanah kepada siapa pun selain murid kesayangannya itu.

“Arjuna, aku bersumpah bahwa hanya kepadamulah ilmu Jemparing ini kuturunkan.” ucap Begawan Durna.

“Terima kasih guru.” sembah Arjuna.

Begawan Durna dan Arjuna sedang berkumpul di serambi padepokan Sokalima. Percakapan guru dan murid itu terhenti ketika di hadapan mereka datang seorang yang tidak dikenal. Mengaku bernama Palgunadi.

“Guru Durna, perkenalkan namaku Palgunadi.” ucap sang tamu.

Kisanak, darimana asalmu?” tanya Begawan Durna.

“Aku pengembara dari negeri Paranggelung. Tujuanku ke padepokan Sokalima ini ingin  berguru ilmu Jemparing kepadamu, Guru Durna.” jelas Palgunadi.

“Maaf kisanak, aku sudah tidak menerima murid lagi.” balas Guru Durna.

“Kumohon terimalah aku sebagai murid Sokalima, guru Durna. Aku sangat mengagumi kedigdayaanmu!” pinta Palgunadi.

“Sekali lagi maafkan aku. Sokalima belum berjodoh denganmu. Carilah pertapa di padepokan lain, masih banyak guru yang jauh lebih digdaya dariku.” tolak Begawan Durna dengan halus.

Palgunadi terus memohon, tetapi Begawan Durna bersikukuh tidak mengabulkan keinginan kesatria muda dari Paranggelung itu. Dengan perasaan kecewa dan putus asa, Palgunadi meninggalkan Sang Mahaguru.

Dipacu seekor kuda putih yang menjadi tunggangan sang pengembara sekencang-kencangnya. Meninggalkan padepokan Sokalima.

“Arjuna, ikuti Palgunadi! Firasatku mengatakan dia bukan seorang pengembara biasa.” perintah Begawan Durna.

Sendika dhawuh, guru!jawab Arjuna.

Tak kalah sigap, sang kesatria penengah Pandawa memacu kudanya dengan kencang pula. Membuntuti Palgunadi yang terus menjauh dari Sokalima. Menembus hutan Astina, Mandura, dan Wiratha.

*****

“Ya Jagad Dewa Bathara, bidadari darimana itu?” tergetar hati Arjuna ketika dilihatnya seorang putri duduk di taman kotaraja Paranggelung. Dua orang dayang duduk tak jauh dari sang putri.

Indratanaya berjalan menghampirinya. Mengambil tempat duduk dekat dengan wanita yang baru saja membuat perasaan kesatria penengah Pandawa bergemuruh.

“Permisi, ijinkan aku menumpang istirahat disini.” sapa Arjuna.

“Oh, silahkan.” jawab sang putri sembari bergegas meninggalkan taman.

Arjuna kecewa.

Belum reda gemuruh dalam dadanya. Hatinya masih terkesima dengan pesona wanita tadi. Tetapi sang putri terlalu cepat pergi. Ia pun bangkit dari tempat duduknya. Dari kejauhan, Arjuna mengikuti langkah sang putri.

Begawan Durna!

Terkejut kesatria penengah Pandawa ketika melihat puluhan patung gurunya, Begawan Durna bertebaran di sebuah taman lain di kotaraja Paranggelung. Duduk di sana putri yang di ikutinya.

“Siapa engkau wahai bidadari? Kenapa banyak patung guruku disini?” tanya Arjuna yang nekad menghampiri lagi putri tadi.

“Justru seharusnya aku yang bertanya, kisanak ini siapa? Kenapa dari tadi membuntutiku?” balas sang putri.

“Aku Arjuna, dari padepokan Sokalima.” jawab kesatria penengah Pandawa.

Palgunadi!

Arjuna kembali terkejut ketika dihadapannya kini telah berdiri sosok lelaki yang sedang dicarinya. Palgunadi. Kesatria yang datang ke Sokalima untuk minta di ajari ilmu jemparing oleh Begawan Durna.

“Jangan ganggu Dewi Anggraini. Dia istriku, Arjuna!” bentak Palgunadi. Sorot matanya menebar kecemburuan. Lelaki mana yang tidak jatuh cinta oleh pesona istrinya. Begitu pula dengan Arjuna, pasti sedang menggoda Dewi Anggraini, pikir Palgunadi.

“Orang ini membuntutiku terus dari tadi, kakanda Prabu Ekalaya.” sang putri yang ternyata bernama Dewi Anggraini seketika bergelayut pada lengan Palgunadi.

“Prabu Ekalaya?” gumam Arjuna.

“Hai Ekalaya, ternyata engkau pembohong! Berpura-pura menjadi pengembara bernama Palgunadi, lalu menyusup ke padepokan kami. Apa maksudmu memasang patung guruku Begawan Durna?” ucap Arjuna.

“Ini sebagai bukti bahwa aku sangat mendambakan menjadi murid Mahaguru Durna.” elak Prabu Ekalaya.

“Tinggalkan taman Paranggelung Arjuna. Jangan mengganggu istriku Dewi Anggraini!” lanjut Prabu Ekalaya.

“Aku akan pergi dari Paranggelung dengan membawa Dewi Anggraini!” sesumbar Arjuna.

“Tutup mulutmu!” Prabu Ekalaya langsung merentangkan busurnya. Ia mencabut sebuah anak panah.

Hal yang sama juga dilakukan murid padepokan Sokalima. Arjuna.

Kini kedua kesatria yang sedang berhadap-hadapan sudah sama-sama mengangkat busurya. Sejurus kemudian, keduanya saling membidik ke arah lawan.

Prabu Ekalaya lebih cepat!

Belum sempat anak panah Arjuna melesat, senjata milik raja Paranggelung mengenai  tangan kesatria Pandawa. Busur Indratanaya terpental. Darah segar mengucur dari lengannya.

“Ekalaya, aku akan kembali lagi kesini untuk membawa Dewi Anggraini!” sesumbar Arjuna sambil memacu kudanya meninggalkan taman Paranggelung.

Murid kinasih Begawan Durna kembali ke padepokan Sokalima.


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]
Cerita selanjutnya [ Disini ] 

Catatan :
kisanak = anda
Jemparing = panah, memanah
sendika dhawuh = siap laksanakan
kinasih = kesayangan 

Lole-lole, mbegegeg ugeg-ugeg, hemel-hemel, sadulit-dulita = kata latah Semar.
Lole-lole = wahai manusia
mbegegeg = diam
ugeg-ugeg = bergerak
hemel-hemel = mencari makan
sadulit-dulita = sedikit

Kalimat ini mengandung pesan moral "Wahai manusia, jangan hanya diam. Bergerak dan berusahalah mencari makan (nafkah), meskipun hasilnya sedikit tidak apa-apa."   


Arjuna - foto dokumen pribadi
 
Prabu Ekalaya (Palgunadi) - image google

15 komentar:

  1. Arjuna nggak sopan, istri orang mau diambil aja..

    BalasHapus
  2. Arjuna nggak sopan, istri orang mau diambil aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan jandanya Duryudana, setelah Bharatayuda berakhir "di lelesi" loh Lis =D

      Hapus
  3. Kata latahnya Semar itu bahasa jawa kah mas??

    Wah ternyata Arjuna suka ngerebut istri orang ya.. baru tau aku.. selama ini brandingnya kan bagus terus..😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu bahasa Jawa mbk Sas.
      Branding bagus kan krn ketampanannya.

      Hapus
  4. Ih arjuna, suka ama istri orang... kayak arjuna aku dong. Suka sama renata, istrinya Bima. Ah seru seru seru.. hihihihi

    BalasHapus
  5. Suka,keren ceritanya.kayak baca cerpen

    BalasHapus
  6. Hahaha. Arjuna mata keranjang hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... penkluk dua puluh wanita Aa.
      kurang Playboy gimana??

      Hapus
  7. aiss, Arjuna. penakluk 20 wanita??
    ck ck ck ck,

    BalasHapus
  8. aiss, Arjuna. penakluk 20 wanita??
    ck ck ck ck,

    BalasHapus
  9. Baca blognya Mas Heru kayak lagi didongengin hihi
    Keren, Mas!

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *