Sabtu, 08 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 6)


image google


2.WERKUDARA

Kadipaten Gandaradesa,
“Bunuh bocah itu!” perintah Harya Suman.

“Mati kau, bocah hilang!” sesumbar Haryaprabu Sabarasanta.

Sesaat setelah pulang dari pendopo Astina, Harya Suman mendahului keberangkatan Yama Widura dan Patih Gandamana yang diperintah Prabu Pandudewanata menjemput putranya di hutan Mandalasara.

Harya Suman menemui dua kerabatnya di Gandaradesa. Haryaprabu Sabarasanta dan Haryaprabu Anggajaksa.

“Adikku, ada tugas mulia untuk kalian.” ucap Harya Suman.

“Apa yang harus kami lakukan, kakang Suman?” tanya Haryaprabu Anggajaksa.

“Yama Widura dan Gandamana sedang menuju hutan Mandalasara. Mereka akan menjemput anak Pandu yang kedua. Kita bunuh bocah itu sebelum dijemput!” jelas Harya Suman.

“Kenapa bocah itu harus dihabisi, kakang?” tanya Haryaprabu Sabarasanta.

“Firasatku mengatakan bocah itulah yang akan menjadi penghalang bagi keponakan kita ini untuk menduduki tahta Astina kelak!” jelas Harya Suman sambil menepuk-nepuk pundak dua bocah kecil di sampingmu.

Keponakan yang diajak Harya Suman ke Gandaradesa itu adalah putra Dewi Gandari. Suyudana dan Dursasana. Keduanya masih kecil.

“Anggajaksa, tugasmu menghadang Yama Widura dan Gandamana agar terhambat perjalanannya menuju hutan Mandalasara. Sementara engkau Sabarasanta, bagianmu adalah menghabisi nyawa si bocah hilang!” perintah punggawa baru kerajaan Astina itu.

“Budhal!” jawab Haryaprabu Sarabasanta dan Haryaprabu Anggajaksa serempak.

*****

“Buka cadar kalian!” seru Patih Gandamana ketika sepasukan bertopeng menghadang perjalanannya.

“Siapa kalian?” timpal Yama Widura.

“Kembalilah ke Astina, atau kalian akan menyesal!” ucap Haryaprabu Anggajaksa yang menutupi wajahnya dengan cadar hitam.

Patih Gandamana yang dikenal temperamental seketika tersulut amarahnya. Tidak menunggu lama-lama, ia langsung mencabut senjata. Diikuti pula oleh Yama Widura.

“Serang ..!” seru Haryaprabu Anggajaksa kepada pasukan Gandaradesa.

Dua punggawa Astina dikeroyok oleh Anggajaksa bersama puluhan prajuritnya. Tetapi Patih Gandamana dan Yama Widura tidak gentar sedikitpun. Mereka adalah kesatria pilih tanding yang tak mudah diringkus begitu saja.

Ajian Blabag Panganthol-anthol milik Patih Gandamana, menyapu bersih barisan pasukan Gandaradesa. Haryaprabu Anggajaksa lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

*****

Hutan Mandalasara,
Iring-iringan pasukan Gandaradesa dari kelompok Haryaprabu Sabarasanta memasuki hutan yang telah porak poranda. Sebuah kereta mengikutinya. Tampak Harya Suman beserta dua bocah kecil duduk didalamnya.

Kedatangan mereka disambut oleh auman seorang bocah yang terbungkus selaput bening. Suaranya terdengar buas seperti singa dan harimau.

“Hehehe … rupanya engkau si bocah hilang itu!” ucap Harya Suman ketika bocah bungkus menghadang rombongan pasukan Gandaradesa.

Si bocah bungkus hanya mengaum.

“Bunuh dia, Sabarasanta!” perintah Harya Suman.

Haryaprabu Sabarasanta beserta pasukannya serentak menyerang bocah bungkus dengan berbagai senjata. Ratusan anak panah, pedang dan tombak menghujani tubuh berbalut selaput bening. Tetapi tak satu pun yang bisa menggoresnya.

Merasa diperlakukan kasar, si bocah bungkus marah.

Ia mengamuk dengan menabrakkan diri ke barisan pasukan Gandaradesa. Benturannya kuat hingga Haryaprabu Sabarasanta dan prajuritnya kocar-kacir.

Harya Suman, Suyudana dan Dursasana kecil yang berada di kejauhan merasa ngeri melihatnya, “Suyudana, kita pulang dulu ke Astina. Nanti kupikirkan lagi rencana untuk membunuh bocah bungkus itu.”

Perlahan kereta Harya Suman mlipir dari hutan Mandalasara. Meninggalkan Haryaprabu Sabarasanta dan anak buahnya yang jatuh bangun di hajar bocah bungkus.

*****

Sepeninggal Harya Suman dan Haryaprabu Sabarasanta, bocah bungkus masih tetap mengamuk. Mengobrak-abrik apa saja yang masih tersisa di Mandalasara. Bathara Bayu yang tiba disana, menghentikan amukan itu.

Dengan ilmu kadigdayaan sebagai Dewata, Bathara Bayu menelusup masuk ke dalam selaput pembungkus si bocah.

“Hey, siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke bungkusku!” ucap si bocah di dalam bungkus.

“Aku adalah ayah angkatmu, namaku Bathara Bayu. Dewa Angin yang berasal dari Kahyangan Suralaya. Kedatanganku kesini untuk menolongmu.” Jawab Bathara Bayu.

“Lalu, kapan aku bisa keluar dari bungkus ini dan melihat dunia luar sana?” si bocah kembali bertanya.

“Sekarang saatnya engkau akan keluar dari bungkus. Bertemu dengan orang tuamu yang telah lama menunggu di Astina. Prabu Pandudewanata dan Ratu Dewi Kunti.” tutur Bathara Bayu.

“Tapi sebelum itu, aku akan memberimu busana dan bekal kadigdayan.” lanjut Sang Dewa Angin.

Bathara Bayu kembali mengeluarkan kadigdayaannya. Ia membekali si bocah bungkus dengan Pupuk Mas Jarot Asem, Anting Panunggul Manik Warih, Sumping Pundak Sinumpet, Kain Poleng Bang Bintulu Aji, Gelang Candrakirana, Kelatbahu Ceplok Manggis, dan Ikat Pinggang Cinde Bara.

“Kini tugasmu memecahkan selaput itu, Gajah Sena!” perintah Bathara Bayu setelah keluar dari bungkus.

Gajah asal Kahyangan menendang si bocah bungkus. Di injak-injak dan diterjang dengan kedua gadingnya. Selaput yang mengurung putra Pandudewanata selama empat belas tahun pun pecah.

Begitu mengetahui pembungkusnya robek, sontak melompat keluar seorang bocah. Tubuhnya kekar dan tinggi besar. Berdiri menantang di hadapan Gajah Sena. Mengetahui bahwa hewan itu yang tadi menginjak dan menendangnya, si bocah terpancing amarahnya. Dia balas menendang.

Gajah Sena terpental!

Si bocah mengejarnya. Menghajar lagi Gajah Sena tanpa ampun, lalu mematahkan kedua gading hewan asal Kahyangan itu.

Putusnya kedua gading menewaskan sang putra Erawata, tunggangan Bathara Indra. Gajah Sena berubah menjadi seberkas cahaya kuning keemasan. Masuk dan menyatu ke raga si bocah.

“Anakku, kini sukma Gajah Sena telah menyatu dalam tubuhmu. Kuberi nama engkau Bratasena, Bimasena. Gajah Sena yang dahsyat dan mengerikan!” tutur Bathara Bayu.

“Kedua gading Gajah Sena yang telah engkau putuskan juga menyatu dalam jari jempolmu. Jika membutuhkannya, gading itu bisa keluar memanjang. Kunamakan Kuku Pancanaka!” lanjut Dewa Angin.

“Hemmmmmmmmmm …!” Bratasena hanya mengaum.

Ia berlari menuju dua orang penunggang kuda yang dilihatnya baru saja memasuki hutan Mandalasara. Patih Gandamana dan Yama Widura.

Tanpa ampun, Bratasena langsung menghajarnya. Dua utusan Astina itu belum sempat memasang kuda-kuda. Sang Bimasena yang mengira Patih Gandamana dan Yama Widura adalah kawan Haryaprabu Sabarasanta terus menyerang mereka bertubi-tubi.

Jatuh bangun Patih Gandamana dan Yama Widura menahan pukulan dan tendangan Bratasena.

“Hentikan ngger, anakku Bratasena! Mereka bukan musuhmu!” seru Bathara Bayu.

“Hemmmmmmmmmm …” Sang Bimasena kembali hanya mengaum. Ia pun menghentikan amukannya.

“Sembah dan bhakti kami untuk pukulun Bathara Bayu.” Ucap Patih Gandamana dan Yama Widura sembari menghaturkan sembah kepada Dewa Angin.

“Aku terima sembah dan bhakti kalian. Semoga keselamatan dan kemakmuran senantiasa dilimpahkan untuk orang-orang Astina.” jawab Bathara Bayu.

Ditepuk-tepuk pundak Bratasena yang mulai reda amarahnya, “Ngger anakku Bratasena, mereka ini adalah utusan ayahmu Prabu Pandudewanata. Ikutlah dengan Yama Widura dan Gandamana. Temui orang tuamu di istana Astina.”

“Hemmmmmmmmm … baiklah!” jawab Bratasena.

“Jaga dirimu baik-baik anakku. Jadilah kesatria pemberani yang senantiasa membela kebenaran dan kebajikan!” tutup Sang Bathara Bayu.

Melesat Sang Dewa Angin meninggalkan Bratasena, Yama Widura dan Patih Gandamana.

Kibasan tubuhnya berubah menjadi hembusan angin besar. Menerbangkan setiap benda yang ada di hutan Mandalasara.  Selaput pembungkus Bratasena ikut tertiup pula.

Melayang jauh dan jatuh di negeri Banakeling.

Kelak, bungkus Bratasena itu akan dirawat oleh Begawan Sempani, seorang pertapa sakti di Banakeling hingga tumbuh menjadi seorang bayi. Jayadrata namanya.

Setelah besar, dalam perang Bharatayuda, Jayadrata tewas oleh bocah yang dulu dibungkusnya. Bimasena.

~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]

Gajah Sena - image google
Harya Suman - foto dokumen pribadi
Bratasena - foto dokumen pribadi

10 komentar:

  1. Ajiane Bimasena jian uakeh tenan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo Lis,
      Durung sing diperoleh Gedene mbesok iku

      Hapus
  2. Selalu suka gaya bercerita yang ngalir kayak gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena saya gk bisa bermain diksi Uncle,
      Jadi menulis dg bahasa biasa aja spt ini.
      Jauh dr kata2 indahnya Uncle

      Hapus
  3. Mas heru. Gimana caranya menghafal semua nama-nama itu? Keren banget mas... aku sampai tercengang begini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lama prosesnya mbk Vinny.
      Bertahun-tahun nonton wayang,
      Heheee

      Hapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *