Kamis, 06 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 4)



image google

2.    WERKUDARA

Taman Kaputren Astina,
Yayi Kunti, telah tiba waktunya kita memiliki putra lagi.” ucap Prabu Pandudewanata.

“Jika itu kemauan kanda prabu, hamba siap memberikannya.” jawab Dewi Kunti.

Dua tahun sudah Puntadewa, putra pertama mereka terlahir. Senja itu, Prabu Pandudewanata sedang bercengkerama dengan dua istrinya, Dewi Kunti dan Dewi Madrim di taman Kadilengeng.

“Benihku yang menyatu dalam buah Pertanggajiwa telah tertanam di rahimmu, berdoalah kepada Gusti Kang Makarya Jagad untuk mengabulkan keinginan kita. Bacalah Ajian Kunta Ciptaning Tunggalmu, yayi!” pinta sang raja Astina.

Prabu Pandudewanata, Dewi Kunti dan Dewi Madrim beranjak dari taman kaputren. Mereka kembali ke istana Astina karena sang permaisuri hendak bertapa brata sejenak. Mengheningkan cipta untuk merapal Ajian Kunta Ciptaning Tunggal ajaran Resi Dwurasa.

Di dalam biliknya, Dewi Kunti melepas seluruh cipta rasa duniawi. Hati dan pikirannya tertuju kepada seorang Dewa yang dia inginkan menyatu ke benih Prabu Pandudewanata. Buah Pertanggajiwa masih dua potong ada di rahim sang permaisuri.

Bathara Bayu!

Nama Dewa Angin  yang hari itu dipanggil oleh Dewi Kunti dalam mantra Ajian Kunta Ciptaning Tunggal. Bathara Bayu langsung turun ke Arcapada, menyempurnakan benih Prabu Pandudewanata menjadi sebuah janin bayi.

*****

Waktu terus bergulir, kandungan Dewi Kunti semakin membesar. Puncaknya adalah ketika ia merasakan tanda-tanda akan melahirkan bayi dalam rahimnya.

Seperti saat kelahiran putra pertamanya, Prabu Pandudewanata kembali resah. Pikirannya masih saja dihantui kutukan Resi Kindama. Sang ayah, Begawan Abiyasa tak henti-henti membesarkan hati raja Astina.

Dewi Kunti pun akhirnya melahirkan tanpa kesulitan seperti persalinan Puntadewa dulu.

Namun cobaan kembali datang. Jabang bayi keluar dengan kondisi terbungkus selaput bening. Keras dan kuat. Prabu Pandudewanata mencoba merobek dengan berbagai senjata. Tidak mempan.

Seluruh pusaka yang ada di Astina dikerahkan. Tetapi semua nihil. Tombak Kyai Karawelang pun tidak mampu melukai selaput yang mengurung jabang bayi laki-laki Dewi Kunti.

“Putraku, marilah kita bertapa brata kembali. Memohon petunjuk kepada Dewata, jalan terbaik untuk bayi bungkus ini.” saran Begawan Abiyasa.

“Baiklah, ayahanda.” jawab Prabu Pandudewanata.

Kedua orang ayah dan anak itu memasuki sanggar pamujan. Menyatukan cipta rasa, hati dan pikiran kepada Dewata. Memohon pertolongan untuk jabang bayi yang sudah berhari-hari berkutat dalam bungkusan selaput.

Dalam keheningan di sanggar pamujan, Begawan Abiyasa yang akhirnya mendapat petunjuk dari para Dewata. Ia pun membuka mata dan membangunkan putranya, Pandudewanata dari semedinya.

“Putraku, aku telah mendapatkan jalan keluarnya.” ucap Begawan Abiyasa.

“Apa itu, ayahanda?” kejar Prabu Pandudewanata.

“Bayi bungkus ini harus kita buang ke hutan Mandalasara!” lanjut Begawan Abiyasa.

“Apa?” Prabu Pandudewanata terkejut mendengar .

“Tidak mungkin!” serunya.

“Ini petunjuk dari Dewata Agung.” jelas Begawan Abiyasa.

Prabu Pandudewanata terdiam. Hatinya terasa luluh lantak. Jabang bayi yang masih mungil dan tak berdosa, dengan kondisi menderita terbungkus selaput, harus dia buang ke hutan Mandalasara. Rimba belantara dengan penghuni berbagai makhluk halus dan kawanan binatang buas.

“Jika memang Dewata memberikan jalan keluar seperti ini, aku ikhlas kakanda prabu.” ucap Dewi Kunti ketika suaminya menyampaikan petunjuk yang didapat Begawan Abiyasa.

“Baiklah, yayi Kunti. Aku akan membawa bayi kita ke hutan Mandalasara.” tutup Prabu Pandudewanata.

Dengan berat hati, berangkatlah Prabu Pandudewanata diantar Begawan Abisaya menuju hutan Mandalasara. Jauh dari negeri Astina.

*****

Auman binatang buas dan tawa seram bangsa lelembut menyambut kedatangan bayi bungkus di hutan yang banyak dihuni makhluk ganas itu. Para gandarwa, raksasa, wewe dan banaspati berjingkrak-jingkrak melihatnya.

Bayi Dewi Kunti diletakkan di bawah sebuah pohon beringin yang ada di hutan Mandalasara.

Waktu terus berjalan. Bayi yang terbungkus selaput bening bukannya mati, tetapi justru tumbuh semakin besar. Kini ia telah mampu bergerak. Menggelinding dan menendang apa saja yang dilaluinya. 

Hutan Mandalasara di obrak-abrik!

Binatang buas yang berusaha memangsanya justru menemui nasib naas. Jangankan memakan sang bayi, mendekat saja tidak berani. Si bungkus mengamuk setiap ada makhluk yang berusaha menyentuhnya.

Amukan sang bayi membuat seisi hutan Mandalasara gempar.

Pohon-pohon tumbang. Bukit dan gunung longsor hingga rata dengan tanah. Binatang buas penghuninya berhamburan tak tentu arah. Makhluk halus penunggunya lari tunggang langgang.


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Catatan :
Yayi = adinda
Gusti Kang Makarya Jagad = Tuhan Pencipta Alam
lelembut = makhluk halus, bangsa jin

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]

Dewi Kunti - image google
 

8 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *