Sabtu, 15 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 13)



image google


3.ARJUNA

Astina, jelang pernikahan Arjuna dan Sembadra.

“Gusti Prabu Duryudana, putraku ini telah berhasil membawa kayu Dewandaru, gamelan Lokananta dan empat puluh bidadari dari Kahyangan,” ucap Begawan Durna, menutupi kegagalan Aswatama.

“Cocok!” jawab Prabu Baladewa, raja Mandura yang ikut menunggu kedatangan Aswatama dan Patih Sengkuni di Astina.

“Tetapi di tengah perjalanan Arjuna mencegatnya. Aswatama kewalahan dikeroyok oleh para punakawan. Merekapun berhasil merampas kayu Dewandaru, gamelan Lokananta dan empat puluh bidadari itu.” Begawan Durna mengeleng-gelengkan kepala. Menegaskan dustanya demi sang putra Aswatama.

“Keparat Arjuna!” umpat Prabu Baladewa.

“Sejak awal aku sudah mengira, para Pandawa pasti dengan licik akan menggagalkan keinginan adik kita Burisrawa untuk mendapatkan Wara Sembadra!” timpal Prabu Duryudana.

“Keparat Pandawa!” kembali Prabu Baladewa memaki-maki.

Tergopoh-gopoh Patih Sengkuni, Dursasana, Citraksa, Citraksi dan Durmagati memasuki pendopo Astina. Wajah mereka babak belur. Darah belum mengering dari sudut bibir dan pelipis mereka.

“Ada apa paman Harya Suman? Kenapa tubuh kalian penuh luka?” tanya Prabu Duryudana.

“Kami telah bertarung habis-habisan dengan Dadung Awuk di hutan Setragandamayit hingga berluka-luka seperti ini. Dengan penuh perjuangan akhirnya empat puluh kerbau Danu berhasil kami bawa,” ucap Patih Sengkuni.

“Dengan sisa tenaga, kami menuju Kendalisadha. Kembali bertarung matian-matian dengan kera jelek Hanoman. Kereta emas pun dapat kami bawa ke Astina,” lanjut Patih Sengkuni.

Paman dari para Kurawa itu melirik ke arah Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana. Saat kedua raja yang sama-sama menjadi ipar Burisrawa itu tidak menatapnya, Patih Sengkuni tersenyum puas.

Saat kedua menantu Prabu Salyapati (Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana) menghadapkan wajah ke arahnya, kembali Patih Sengkuni meringis, berpura-pura menahan rasa sakit. Sesekali ia merintih-rintih. Tentunya dengan kebohongan.

“Baguslah, sejak awal aku memang yakin kalian akan berhasil membawa semua persyaratan yang diminta Prabu Kresna itu, paman!” ucap Prabu Duryudana.

“Tapi nasib kami sial, gusti prabu. Saat tenaga sudah habis itulah, datang Werkudara yang merebut kerbau Danu dan kereta emas.” Kembali bersilat lidah Patih Sengkuni.

Mendengar cerita Sengkuni, Burisrawa yang sangat berhasrat meminang Sembadra merengek-rengek kepada kedua kakak iparnya. Ia merasa harapannya kini semakin menipis. Hanya istri kakaknya Dewi Erawati, Prabu Baladewa yang bisa membatalkan pernikahan Arjuna dengan Wara Sembadra.

“Duh kakang Prabu Baladewa, kakang Prabu Duryudana. Mending aku mati daripada gagal mempersembahkan syarat yang diminta Prabu Kresna,” ratapnya kepada kedua kakak ipar.

“Keparat Werkudara!” amarah Prabu Baladewa semakin memuncak.

Raja Mandura berdiri sambil berkacak pinggang. Ditendang keras-keras tempat duduknya hingga terpental keluar pendopo Astina. Matanya merah menyala, pertanda sedang murka.

Tak ada yang berani berbicara. Jika Prabu Baladewa sedang marah seperti itu, siapa pun bisa dijadikan pelampiasan. Semua yang hadir di pendopo Astina terdiam, takut salah berbicara.

“Hei Pandawa … Baladewa sendiri yang akan menghajar Arjuna dan Werkudara!” teriaknya sambil menepuk-nepuk dada.

Budhal!” tutup sang raja Mandara.

Arak-arakan pasukan Astina dengan dipimpin Prabu Duryudana berangkat ke Dwarawati. Dikawal oleh raja Mandura, Prabu Baladewa. Kakak dari Roro Ireng, Wara Sembadra yang sedang menjadi primadona para kesatria muda.

*****

Istana Jajarsewu, jelang pernikahan Arjuna dan Sembadra.

“Klabangcuring, bawa Wara Sembadra kemari!” perintah Prabu Kalapardha.

Raja negeri Jajarsewu yang dihuni bangsa raksasa itu telah lama mendengar kecantikan Wara Sembadra. Melalui tapa brata, ia bisa berkelana sukma hingga ke negeri Dwarawati. Disana Kalapardha terkesima melihat pesona putri mendiang Prabu Basudewa.

Sendika dhawuh, gusti prabu,” jawab Kala Klabangcuring.

Kyai Togog Wijamantri, abdi dalem para raja raksasa mengingatkan, hendaknya Prabu Kalapardha mengurungkan niat untuk ngluruk ke Dwarawati. Selain akan menimbulkan masalah, Prabu Kresna dan Pandawa bukanlah tandingan para punggawa Jajarsewu.

“Gusti Prabu Kalapardha, sebaiknya urungkan keinginan paduka untuk meminang kusumadewi Wara Sembadra,” tutur Kyai Togog Wijamantri. Jelmaan dari Sang Hyang Antaga, yang juga kakak kandung dari Sang Hyang Manikmaya atau Bathara Guru.

“Kenapa kakang Togog?” tanya Prabu Kalapardha.

“Dwarawati selain dipimpin titisan Bathara Wisnu, juga ada Pandawa yang dikawal Kyai Lurah Semar Badranaya. Dia adalah kakakku Sang Hyang Ismaya, titisan dari para leluhur Dewata,” jelas Kyai Togog Wijamantri.

“Bukan watak Kalapardha untuk mundur dari siapapun. Meski ia seorang Dewa!” sesumbar raja Jajarsewu.

“Baiklah, aku hanya bisa mengawal dan menjadi penunjuk jalan ke Dwarawati. Sampai disana, hadapilah sendiri para kesatria Pandawa,” tutup Kyai Togog Wijamantri.

Budhal!” seru Kala Klabangcuring.

Berangkaylah pasukan Jajarsewu dipimpin Kala Klabangcuring, Kala Kurandha dan Kala Kulbandha menuju Dwarawati. Misi mereka adalah memboyong Wara Sembadra ke hadapan Prabu Kalapardha untuk dijadikan istri.

*****

Istana Dwarawati, jelang pernikahan Arjuna dan Sembadra.

“Lihatlah Wara Sembadra, betapa megah arak-arakan Arjuna,” ucap Prabu Kresna sambil menepuk-nepuk pundak adik perempuan satu-satunya. Dari pendopo Dwarawati, ia menunjuk ke arah alun-alun.

Sang kakak mencoba menghibur dan membesarkan hati Wara Sembadra yang beberapa hari ini resah. Ia khawatir jika kesatria yang berhasil memenuhi sesembahan ke Dwarawati bukan Arjuna. Kekasih hatinya.

Tersiar kabar bahwa selain Arjuna, ada Burisrawa dan Prabu Kalapardha yang siap bertaruh memperebutkan dirinya. Padahal ia hanya menaruh hati kepada sang kesatria penengah Pandawa. 

Hari itu, semua tetua Pandawa, Mandura, Dwarawati dan Astina telah berkumpul disana. Hadir pula utusan dari Kahyangan Suralaya, Bathara Narada yang menjadi perwakilan para Dewata, atas undangan titisan Bathara Wisnu. Prabu Kresna, raja Dwarawati.

Wara Sembadra menatap ke arah alun-alun Dwarawati. Tampak Arjuna berada di atas kereta emas Kendalisadha, berhiaskan kembang mayang kayu Dewandaru dari Kahyangan Cakrakembang. Di belakangnya berjalan melenggak-lenggok empat puluh bidadari. Di kawal Dadung Awuk beserta empat puluh ekor kerbau Danu gembalaannya.

Arak-arakan Pandawa terlihat semakin indah, ketika para wiyaga menabuh gamelan Lokananta yang dipinjam dari Kahyangan Suralaya. Mengiringi laju kereta emas Arjuna.

Semain dekat menuju pendopo Dwarawati, hati Wara Sembadra kian berdebar. Hari itu adalah hari dimana ia akan menjalani ritual paling skral dalam hidupnya. Impian untuk bersanding hidup dengan sang kekasih tinggal hitungan detik.

“Bubar!” Prabu Baladewa berteriak lantang dari arah berlawanan iring-iringan Pandawa. Tampak Burisrawa telah siap dengan pakaian pengantin, para Kurawa beserta pasukan Astina berada di belakangnya.

“Keparat kalian Pandawa!” maki Prabu Baladewa. Dengan sorot mata merah menyala dan tangan berkacak pinggang, ia menerobos masuk pendopo Dwarawati. Menemui kedua adiknya. Prabu Kresna dan Wara Sembadra.

“Bubarkan arak-arakan Arjuna!”

“Sabar kakang Baladewa. Ada apa ini? kenapa tiba-tiba kakang marah tanpa penjelasan padaku?” Prabu Kresna berusaha menenangkan kakaknya.

“Nikahkan Wara Sembadra dengan Burisrawa!” bentak Prabu Baladewa

“Arjuna yang berhasil menaiki kereta emas dan mempersembahkan kembang mayang kayu Dewandaru, kerbau Danu, gamelan Lokananta serta diiringi Bidadari. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menikahkannya dengan Wara Sembadra, kakang.” Berdiri dari singgasananya sang raja Dwarawati, lalu menghampiri Prabu Baladewa. Mencoba meredam amarah sang kakak dengan menjabat tangannya.

“Bohong!” sela Prabu Baladewa.

“Burisrawa yang seharusnya memenangi. Patih Sengkuni telah berhasil mendapatkan kerbau Danu dan kereta emas, tetapi dirampas Werkudara. Aswatama juga telah membawa kayu Dewandaru, gamelan Lokananta dan empat puluh bidadari, direbut pula oleh Arjuna bersama punakawan!” lanjutnya.

Bathara Narada yang berada di pendopo akhirnya ikut berbicara, “Prokencong-prokencong … pak-pak pong pak-pak pong … waru doyong ditegor uwong .. Ketahuilah Baladewa, semua yang dikatakan Kurawa itu dusta! Arjuna bersama kakang Semar yang berhasil mendapatkan kayu Dewandaru, gamelan Lokananta dan empat puluh bidadari. Akulah saksi di Kahyangan Suralaya kemarin.”

Dadung Awuk yang bergabung dalam arak-arakan Arjuna dan Pandawa ikut menerobos masuk pendopo Astina, “Empat puluh kerbau Danu gembalaanku ini Werkudaralah yang berhasil mendapatkannya. Patih Sengkuni telah membohongimu, Baladewa,” jelasnya.

Prabu Baladewa tetap tidak terima. Ia bersikeras pernikahan Arjuna dan Wara Sembadra harus dibubarkan. Burisrawalah yang harus duduk di pelaminan bersama adik perempuannya. Raja Mandura itu keluar dari pendopo, “Bubarkan iring-iringan Arjuna!” teriaknya.

Sontak barisan Kurawa langsung bergerak menyerang rombongan Pandawa. Werkudara yang sejak awal menahan diri, akhirnya hilang kesabaran. Dia berlari ke arah Prabu Baladewa dan langsung terlibat adu tanding dengan raja Mandura.

Terpancing pula Dadung Awuk untuk ikut berkelahi, “kerbau Danu, habisi Kurawa!” perintahnya. Seketika empat puluh hewan piaraannya langsung mengamuk. Membuyarkan pasukan Kurawa hingga kocar-kacir. Patih Sengkuni, Prabu Dursasana dan adik-adiknya segera menyelamatkan diri dengan lari kembali ke Astina.

Prabu Kresna, Kyai Lurah Semar Badranaya dan Bathara Narada melerai pertarungan Werkudara dengan Prabu Baladewa.

Datang Wara Sembadra yang duduk bersimpuh sambil mencium kedua kaki kakak sulungnya, “kakang Baladewa, bunuhlah aku sekarang juga.” ratapnya.

“Jika memang bisa memuaskan kakang, aku rela menyusul romo Prabu Basudewa ke alam sunyaruri. Tapi ijinkan pernikahan ini berlangsung dulu. Setelah aku selesai duduk di pelaminan dengan raden Arjuna, engkau boleh membunuhku kakang.” Wara Sembadra mencabut sebuah cundrik, lalu diulurkan kepada kakaknya. Prabu Baladewa.

Tergetar hati Kakrasana!

Seketika sang kakak sulung jatuh terduduk di hadapan si bungsu. Prabu Baladewa tertekuk lututnya sembari memeluk Wara Sembadra. Perasaannya luluh juga melihat adik perempuannya menangis. Hatinya sungguh tidak tega.

“Baiklah, Sembadra. Aku merestui pernikahanmu dengan Arjuna,” tutup Prabu Baladewa.

Dwarawati berpesta!

Pernikahan Arjuna dan Wara Sembadra hari itu berlangsung dengan khidmat. Disaksikan seluruh kerabat Pandawa, Dwarawati dan Mandura. Kedua mempelai diarak menggunakan kereta emas berhiaskan kembang mayang kayu Dewandaru dari Kahyangan. Dikawal empat puluh bidadari dan empat puluh ekor kerbau Danu. Diiringi suara syahdu gamelan Lokananta.

Tepat setelah pesta pernikahan berkahir, datang Prabu Kalapardha bersama para punggawa dan pasukan Jajarsewu.


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]
Cerita selanjutnya [ Disini ] 

Catatan :
Kembang mayang = sepasang hiasan dalam pernikahan Jawa, terbuat dari dedaunan dan bunga
Budhal = berangkat 
Romo = ayah
Sendika dhawuh = siap laksanakan
Sunyaruri = alam keabadian
Cundrik = keris kecil

Arjuna - foto dokumen pribadi
Wara Sembadra (Roro Ireng) - image google
 
Prabu Kresna (Narayana) - dokumen pribadi
Prabu Baladewa (Kakrasana) - image google






7 komentar:

  1. Ahh sembadra anggun sekali caranya meminta restu...

    BalasHapus
  2. Kurang adjarrr sengkuni. Nyebelin banget yah.. dia yang maubrebut kereta emas dan kerbau dari bima malah sia yang ngaku dirampok. Bener gak tuh ceritanya begitu? Bener kan? Hahaha

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *