Sabtu, 22 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 19)



Pandawa - image google

 4-5. NAKULA - SADEWA

Kotaraja Astina, masa kehamilan Dewi Madrim.

“Menikahlah denganku, suamimu telah tewas di hutan Pringgodani … hehehe,” Harya Suman menggoda Dewi Setyarini, istri Patih Gandamana.

Dewi Setyarini tidak menjawab. Ia hanya menangis histeris ketika mendengar kabar kematian suaminya. Sampai tak menyadari Harya Suman telah berdiri semakin dekat dengannya.

“Ayolah Setyarini, menurut sajalah, daripada kamu hidup sebatang kara, jadilah istriku saja … hehehe,” rayu Harya Suman.

“Pergi kau!” bentak Dewi Setyarini.

“Atau aku akan memaksamu? Hahaha … hahaha!” tertawa terbahak-bahak Harya Suman sambil terus mendekati Dewi Setyarini yang mulai ketakutan. Istri Patih Gandamana itu berlari hingga tersudut kamarnya, menghindari lelaki yang mulai memperlihatkan gelagat tidak sopan dihadapannya.

“Rupanya kamu minta kupaksa!” Harya Suman semakin tidak bisa mengendalikan hasratnya. 

“Lebih baik aku mati menyusul suamiku, daripada ternoda oleh manusia kotor sepertimu!” ucap Dewi Setyarini sembari mencabut sebuah cundrik, lalu  ia tancapkan ke jantungnya.

Roboh bersimbah darah istri Patih Gandamana!

Brak!

Datang Patih Gandamana yang langsung menendang Harya Suman hingga jatuh terjungkal ke sudut ruangan. Segera ia berlari memeluk tubuh istrinya yang telah meregang bernyawa.

“Keparat engkau Harya Suman!” maki Patih Gandamana.

Ia berdiri menghampiri punggawa Astina yang telah mengadu domba dirinya dengan Arimba. Sesaat kemudian, Patih Gandamana telah mengeluarkan Ajian Blabag Panganthol-anthol (kelak diturunkan kepada Werkudara).

Dicengkeram leher Harya Suman, lalu dihajar sampai babak belur. Bukan hanya itu, Patih Gandamana juga mematahkan punggung orang yang berhati culas dan licik itu. Dirobek pula mulutnya hinga berdarah-darah. Kemudian ditendang sekuat tenaga dan dilempar keluar halaman rumahnya.

*****

Pendopo Astina, Masa Kehamilan Madrim.

“Aku telah mendapat ijin meminjam Lembu Andini dari Bathara Guru, adinda.” ucap Prabu Pandudewanata. Ia sedang mengumpulkan kedua istrinya, Dewi Kunti dan Dewi Madrim.

Tampak hadir pula disana saudara kandung raja Astina, Destaratra bersama istrinya, Dewi Gandari. Juga beberapa petinggi Astina.

“Benarkah kakanda?” tanya Dewi Madrim setengah tidak percaya.

“Benar adinda. Pukulun Sang Hyang Manikmaya memerintahkan aku untuk menjemputmu, nanti kita berangkat lagi ke Kahyangan Jonggringsaloka. Meminjam Lembu Andini sehari,” jelas Prabu Pandudewanata.

“Terima kasih, kakanda prabu. Bahagia sekali aku mendengarnya,” timpal Dewi Kunti, ikut andil berbicara.

Suasana pendopo tiba-iba menjadi gaduh ketika terdengar jeritan meraung-raung dari seseorang yang bersimbah darah,”Aduuhhhh …. Aduuhhhh … mati aku!”

Tergopoh-gopoh Duryudana, Dursasana, Kartamarma, Citraksa, Citraksi dan Durmagati mengangkat tubuh Harya Suman yang sudah babak belur. Membawanya menghadap Prabu Pandudewanata.

“Harya Suman?” Prabu Pandudewanata berdiri dari singgasana.

“Aduuhhhh … aduuhhhh … mati aku, gusti prabu!” ucap Harya Suman

“Apa yang terjadi?” tanya Prabu Pandudewanata.

“Ini ulah Patih Gandamana, gusti. Dia menghajarku habis-habisan karena aku dituduh selingkuh dengan istrinya,” jawab Harya Suman.

Prabu Pandudewanata mendekati, lalu memeriksa semua luka Harya Suman. Wujudnya kini berubah total. Mulut robek, mata melotot dan punggungnya bengkok. Hilang sudah ketampanan kesatria dari Plosojenar.

“Tega sekali Gandamana, ia harus dihukum berat!” timpal Destaratra, kakak ipar Harya Suman.

“Kumohon paduka Prabu Pandudewanata bisa menegakkan keadilan. Meskipun pelakunya seorang Mahapatih istana ini,” Dewi Gandari, istri Destaratra yang juga kakak Harya Suman ikut berbicara.

“Tenanglah kalian, aku pasti akan mengambil keputusan yang adil,” Prabu Pandudewanata berusaha menenangkan Destaratra dan Dewi Gandari.

“Gusti Prabu!”

Tiba-tiba terdengar suara lantang.

“Gusti prabu, lihatlah ini!” teriak Patih Gandamana dari halaman pendopo Astina. Kembali membuat suasana menjadi gaduh.

Tampak sang patih Astina sedang membopong tubuh istrinya, Dewi Setyarini yang telah tak bernyawa. Dengan deraian air mata, Patih Gandamana menceritakan apa yang dialami saat menjalankan tugas ke Pringgodani. Sampai kejadian yang menimpa istrinya.

Prabu Pandudewanata diam sesaat. Ia berjalan menghampiri patihnya. Lalu menepuk-nepuk pundak Gandamana. Mencoba membesarkan hati kesatria asal Pancala.

“Sabarlah Gandamana. Sudah takdir dari Dewata bahwa umur Setyarini hanya sampai disini,” tuturnya.

“Aduuhhhh … aduuhhhh … tolong aku!” Harya Suman kembali menjerit-jerit, mencoba beralibi lagi.

“Hukum harus tetap ditegakkan. Dewi Setyarini mati karena bunuh diri. Harya Suman tidak melukainya sedikitpun. Sementara Patih Gandamana telah menganiaya sampai cacat seperti ini,” protes Destaratra.

“Kalian semua tenanglah!” seru Prabu Pandudewanata.

“Kita hormati dulu jasad Dewi Setyarini. Aku berjanji pasti akan berbuat seadil-adilnya menyikapi kejadian ini. Patih Gandamana, mari kita lakukan upacara kremasi kepada istrimu, agar dia bisa tenang pulang ke alam sunyaruri!” ucap Prabu Pandudewata.

Sendika dhawuh, Prabu Pandudewanata.” jawab Patih Gandamana, dengan isak tangis yang belum sepenuhnya reda.

Pertemuan di paseban agung Astina hari itu ditutup oleh Prabu Pandudewanata, semua punggawa dan kerabat istana diperintahkan untuk melakukan penghormatan terhadap jasad Dewi Setyarini.

Kesatria dari Pancala, Gandamana melarung abu jenasah istri tercintanya ke bengawan Bagiratri.

*****

Keesokan harinya, semua punggawa Astina dikumpulkan di pendopo oleh Prabu Pandudewanata. Dua orang yang berseteru, Harya Suman dan Patih Gandamana diperintahkan duduk paling depan.

Tampak hadir pula Werkudara yang ingin memberikan kesaksian kepada ayahnya. Para Kurawa juga tak ketinggalan. Siap menandingi Bimasena dengan kesaksian palsu mereka.

“Patih Gandamana, semalam aku telah bertapa brata meminta petunjuk kepada Dewata, agar hari ini keputusan yang kuambil bisa seadil-adilnya,” Prabu Pandudewanata membuka pertemuan hari itu.

“Aku mengerti perasaanmu sebagai seorang suami yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh istri. Tetapi tindakanmu menghajar Harya Suman tetaplah salah. Seharusnya engkau tidak main hakim sendiri!” lanjutnya.

“Hukum dia seberat-beratnya!” sela Destaratra.

“Hemmmm … paman Gandamana tidak bersalah, dia dijebak oleh paman Harya Suman yang licik dan culas. Sebenarnya kita telah diadu domba dengan Pringgodani, ayahanda prabu!” Werkudara ikut angkat bicara.

“Engkau masih terlalu kecil untuk ikut memberikan usul di sebuah paseban agung seperti ini, Werkudara,” bantah Destaratra.

“Hemmmm … akulah saksi kejadian itu. Paman Patih Gandamana dijebak oleh paman Harya Suman hingga terperosok kedalam sumur upas di hutan Pringgodani!” jelas Werkudara.

"Werkudara bohong, uwak prabu! Kami juga ada di tempat kejadian. Paman Harya Suman tidak melakukan apa-apa, justru menghalang-halangi niat Arimba yang berniat menyerang paman Patih Gandamana!" Duryudana angkat bicara pula, membela Harya Suman.

Suasana pendopo menjadi gaduh dan memanas. Werkudara yang berwatak keras hampir saja berdiri memukul Duryudana. Tapi buru-buru tubuhnya ditarik duduk kembali oleh Puntadewa.

“Semua diam!" bentak Prabu Pandudewanata.

"Jangan ada yang memotong ucapanku! Akulah raja disini, biarkan aku yang memutuskan!” nada suaranya terdengar meninggi. Pertanda ia sedang marah.

Beberapa saat pendopo hening. Semua tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat wajah jika sang raja Astina sedang murka.

“Patih Gandamana, aku tidak bisa menutup mata dengan jasa-jasamu selama ini. Tetapi dengan berat hati, aku tetap harus menjatuhkan hukuman,” lanjut Prabu Pandudewanata kembali.

“Tanpa mengurangi rasa hormat atas bhaktimu kepada Astina, hari ini aku mencabut jabatan Mahapatih yang pernah kupercayakan kepadamu!” sabda Prabu Pandudewanata.

Sendika dhawuh, gusti prabu!” jawab Patih Gandamana. Lalu ia melepas jubah kebesaran dan sumping Mahapatihnya. Dengan tegar kesatria asal Pancala menyerahkan kepada Prabu Pandudewanata.

“Engkau tetap menjadi punggawa Astina, meskipun tidak menjabat lagi sebagai Patih,” jelas Prabu Pandudewanata.

“Terima kasih, gusti prabu. Hamba telah memutuskan akan pulang ke Pancala. Sekalian hamba pamit sekarang.” Gandamana menyembah Prabu Pandudewanata, lalu mengundurkan diri dari paseban agung Astina.

Werkudara berdiri lalu mengejar Gandamana,”Hemmm … jangan pergi paman Gandamana!” katanya.

“Werkudara, jalan hidup seseorang tidak pernah bisa ditebak. Kemarin aku menjadi Mahapatih, hari ini kembali ke rakyat biasa. Jaga dirimu baik-baik, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” jawab Gandamana sambil memeluk Werkudara.

Pertemuan di paseban agung Astina kembali ditutup oleh Prabu Pandudewanata.

*****

Istana taman langit,
“Sembah dan bhakti hamba kepada pukulun Bathara Guru,” ucap Prabu Pandudewanata ketika mengajak Dewi Madrim mengahadap Sang Hyang Manikmaya di Kahyangan.

“Kuterima sembah dan bhaktimu Pandu, semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa menyertai orang-orang Astina,” balas Bathara Guru.

“Hamba datang bersama Dewi Madrim. Istri hamba,” lanjut Prabu Pandudewanata seraya memperkenalkan istri selirnya. Ia juga mengutarakan bahwa maksud kedatangan mereka adalah melanjutkan permohonan beberapa hari sebelumnya. Meminjam Lembu Andini.

“Baiklah, sekarang kalian berdua boleh membawa Lembu Andini untuk berkelana. Kuberi waktu sehari saja, hingga matahari terbenam nanti,” ucap Bathara Guru.

Sendika dhawuh, terima kasih pukulun,” jawab Prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim serempak.

Pasangan raja dan ratu selir Astina meninggalkan Kahyangan Jonggringsaloka dengan menaiki Lembu Andini. Tunggangan pribadi Sang Hyang Manikmaya. Bathara Guru.

“Kakang Yamadipati, ikutilah Pandu dan Madrim. Jangan sampai mereka terlena hingga melakukan perbuatan yang pernah dikutuk Resi Kindama,” perintah Bathara Guru.

Sang Hyang Manikmaya mengetahui bahwa setiap pasangan yang menunggangi Lembu Andini akan larut dalam lautan asmara. Sebagaimana dia dahulu terlena bersama istrinya, Bathari Durga. Hingga terlahirlah Bathara Kala, putranya.

Sendika dhawuhpukulun Sang Hyang Manikmaya,” jawab Batahara Yamadipati. Dewa Pencabut Nyawa.

Bathara Yamadipati melesat pula meninggalkan Kahyangan Suralaya. Ia juga mengajak istrinya, Bathari Komini. Mengikuti laju Lembu Andini yang terbang membawa Prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim.

Benar apa yang dikhawatirkan Bathara Guru. Raja dan ratu selir Astina yang sedang dimanjakan Lembu Andini mengelilingi jagad raya terlena. Mereka semakin larut dalam kemesraan. Hingga di sebuah taman indah, Prabu Pandudewanata lupa akan kutukan Resi Kindama,”Engkau akan mati, jika melakukan hubungan badan dengan istrimu!” sabdanya kala itu.

Bathara Yamadipati mengajak Bathari Komini merubah wujud menjadi sepasang kijang. Di hadapan Pandu dan Madrim, dua hewan itu juga memadu kasih. Menyindir perbuatan memalukan raja dan ratu selir Astina saat membawa sapi Kahyangan. Tunggangan kehormatan Bathara Guru. Raja para Dewa.

“Kurang ajar kelakuan kijang itu!” gumam Dewi Madrim. Ia merasa malu karena apa yang sedang dilakukannya bersama suami ditirukan oleh sepasang hewan liar.

“Usir mereka, kakanda!” pintanya.

Prabu Pandudewanata mencabut sebuah anak panah. Dilesatkannya ke arah sepasang kijang yang sedang bermesraan di hadapan mereka.

Seketika dua ekor kijang berubah menjadi Bathara Yamadipati dan Bathari Komini!

“Hei Pandu … sungguh memalukan kelakuan kalian berdua! Terlena dalam lautan asmara saat membawa hewan suci. Tunggangan sang penguasa Kahyangan!” ucap Bathara Yamadipati. Mengutuk perbuatan Prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim.

“Untuk apa kalian ada disini, pukulun?” tanya Prabu Pandudewanata.

“Aku diperintahkan Bathara Guru mengikuti kalian. Agar tidak terlena dan lupa dengan kutukan Resi Kindama!” jawab Bathara Yamadipati.

“Pulanglah!” usir Prabu Pandudewanata.

“Kami tidak butuh diawasi! Kami bisa menjaga diri sendiri!” bentaknya.

“Baiklah, aku akan kembali ke Kahyangan Suralaya. Kuingatkan sekali lagi, kutukan Resi Kindama akan segera terjadi. Saat hari itu tiba, aku sendiri yang akan menjemputmu, Pandu!” sabda sang Dewa Pencabut Nyawa.

Tepat dengan lenyapnya Bathara Yamadipati dan Bathari Komini dari hadapan Prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim, tenggelam pula sang Bathara Surya (Matahari) di ufuk barat.

Lembu Andini, sesuai dengan titah pemiliknya, Bathara Guru ikut pula melesat meninggalkan Arcapada. Kembali lagi ke Kahyangan Suralaya. Karena batas waktu pinjaman yang diberikan kepada Prabu Pandudewanata telah habis.

“Kakanda prabu, sungguh indah perjalanan kita hari ini,” bisik Dewi Madrim sambil terus bermanja-manja di lengan suaminya.

“Iya adinda. Inilah hari terindah dalam hidupku,” jawab Prabu Pandudewanata.

“Baiklah, kita pulang ke Astina sekarang. Hari sudah mulai gelap, adinda,” lanjut Prabu Pandudewanata. Ia membopong tubuh Dewi Madrim, lalu mengeluarkan Aji Prapki.

Dalam sekejap mata, raja dan ratu selir Astina sampai di dalam bilik keraton.

Suara gaduh di luar istana terdengar sampai di bilik Prabu pandudewanata dan Dewi Madrim. Samar-samar para punggawanya berseru,”Siapkan pasukan kita … Pasukan Pringgodani datang menyerang!”

Pasukan Pringgodani datang menyerang … pasukan Pringgodani datang meneyerang!


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita selanjutnya [ Disini ]
Cerita sebelumnya [ Disini ]

Catatan :
pukulun = panggilan kepada Dewa
alam sunyaruri = alam keabadian
sendika dhawuh = siap laksanakan

Pandudewanata - image google
Dewi Madrim - image google
 
Bathara Yamadipati - foto dokumen pribadi



0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *