Rabu, 26 Oktober 2016

MENYUSURI JEJAK SEJARAH DI KOTA NGANJUK (Bagian 1)



Candi Ngetos - foto dokumen pribadi

Libur akhir pekan di kampung halaman, kurang lengkap rasanya jika tidak mengunjungi situs-situs yang ada di tanah kelahiran. Selain menjadi alternativ tujuan refreshing, mendatangi obyek wisata bernilai sejarah juga menambah perbendaharaan edukasi. Bahan untuk menulis.

Kali ini, saya mencoba menyusuri tiga tempat bersejarah yang ada di kota angin, Anjuk Ladang (Nganjuk).

1.CANDI NGETOS
Tempat pertama yang saya tuju adalah Candi Ngetos. Berada pada ketinggian 1500 mdpl, terletak di pedalaman gunung Wilis. Secara administrasi masuk wilayah Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Berjarak sekitar 17 km ke arah selatan dari pusat kota.

Saya mengambil rute dari pusat kota menuju Loceret, sebuah kecamatan yang menghubungkan Nganjuk dengan kabupaten lainnya dibagian selatan (Kediri, Blitar, Tulungangung, Blitar, Trenggalek).

Dari perempatan Loceret, saya mengambil jalur ke arah Berbek, Ngetos, Sawahan (salah satu jalur yang sangat dikenal para traveler karena merupakan menuju Air Terjun Sedudo, ikon wisata unggulan Kabupaten Nganjuk). Tiga puluh menit kemudian, saya sampai di jembatan legendaris Kuncir. Sebuah tempat yang sarat dengan mitos menyeramkan pada pemakamannya.

Jika sahabat sekalian menggunakan alat transportasi umum, dari terminal Anjuk Ladang bisa menumpang angkot jurusan Nganjuk – Berbek – Sawahan turun di jembatanKuncir. Dari tempat ini, puluhan tukang ojek siap mengantar ke Candi Ngetos.

Sekitar lima belas menit perjalanan dari Kuncir menuju lokasi candi, kita akan dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan. Mata akan terpesona oleh hamparan gunung Wilis yang berdiri megah. Hutan tropis, ladang dan persawahan khas pegunungan menambah imajinasi kita laksana sedang menyusuri taman para Dewa.

Sampai di pusat kecamatan Ngetos, komplek candi dapat dijumpai dengan mudah. Lokasinya berada di pinggir jalan raya. Menghadap ke arah selatan, seolah menatap puncak gunung Wilis.

Candi Ngetos, adalah sebuah candi bercorak hindu dengan arsitektur khas Jawa Timur, yaitu berbahan batu bata merah. Dibangun sekitar abad XIV sehingga bisa dipastikan situs ini merupakan peninggalan jaman Majapahit (era Prabu Hayam Wuruk).

Menurut data yang tertulis di komplek Candi Ngetos, bangunan ini didirikan oleh raja Negeri Ngatas Angin (sebuah kerajaan vassal/bawahan Majapahit), Raden Ngabehi Selopurwoto, bergelar Prabu Condromowo, yang merupakan paman dari Prabu Hayam Wuruk. Raja Majapahit.

Ketika itu, Prabu Hayam Wuruk mengigninkan jika kelak meninggal, abu jenasahnya disimpan di sebuah candi yang menghadap ke gunung Wilis. Salah satu dari beberapa gunung yang disucikan oleh orang-orang Majapahit (selain Mahameru dan Penanggungan).

Prabu Condromowo memerintahkan patihnya Raden Bagus Condrogeni dan seorang pertapa sakti bernama Mpu Supo untuk membangun sebuah candi di wilayah Ngatas Angin. Menghadap ke arah selatan (puncak gunung Wilis).

Dalam waktu yang tidak lama, dua candi kembar telah berdiri megah di Ngatas Angin. Sayang, kini hanya tinggal sebuah candi yang tersisa. Dikenal dengan nama Candi Ngetos.

Secara keseluruhan, bangunan candi ini berdiri setinggi 10 meter dengan panjang sekitar 9 meter, sehingga bentuknya lebih menyerupai bangun ruang kubus. Pada keempat sisinya terdapat pintu dengan tangga (undakan) setinggi 2.5 meter. Di dalamnya terdapat ruangan besar, tapi saya tidak sempat memasukinya. Banyak ornamen dan hiasan pada hampir keseluruhan badan candi.

Di bagian depan (selatan) candi terdapat motif kala berukuran sangat amat besar, yaitu sekitar 2x2 meter. Kala tersebut masih utuh. Wajahnya terlihat menakutkan. Menggambarkan bahwa penguasa Majapahit ketika itu mempunyi kewibawaan dan kekuatan yang besar.

Candi Ngetos berbahan batu bata merah sehingga kondisi fisiknya sekarang banyak yang sudah aus dimakan jaman.

Sekilas, Candi Ngetos ini mirip dengan bangunan Candi Brahu di Trowulan Mojokerto. Sebuah bangunan yang dipercaya menjadi tempat penyimpanan abu jenasah Prabu Brawijaya. Pendiri dan raja pertama kerajaan Majapahit. Kakek dari Prabu Hayam Wuruk. Inisiator pembuatan Candi Ngetos.

Meski tujuan awal pembuatan candi ini akan digunakan untuk menyimpan abu jenasah Prabu Hayam Wuruk, namun ketika raja Majapahit paling termahsyur ini mangkat, akhirnya justru dimakamkan di Tajung.

Jika sahabat sekalian bepergian ke kota Nganjuk, tidak ada salahnya mengunjungi candi Ngetos. Sebuah peninggalan sejarah yang menjadi bukti keindahan seni arsitektur di jaman Majapahit.


Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost
Candi Ngetos - foto dokumen pribadi

3 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *